NASIONAL

TNI Intensifkan Penanganan Pasca Erupsi Gunung Semeru 2025,  477 Warga Masih Mengungsi

SOROTMATA.ID – Penanganan pasca erupsi Gunung Semeru 2025 terus berlangsung intensif. Prajurit TNI dari berbagai satuan bergerak cepat meninjau Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, untuk memastikan kondisi keamanan warga maupun tingkat kerusakan infrastruktur. Hingga Minggu (23/11/2025), sebanyak 477 jiwa masih bertahan di dua titik pengungsian di wilayah Pronojiwo.

Kabidpenum Puspen TNI Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi menegaskan bahwa TNI masih memprioritaskan upaya penyelamatan dan monitoring risiko.

“Sebanyak 477 jiwa masih bertahan di dua titik pengungsian di Kecamatan Pronojiwo, sementara aktivitas masyarakat di wilayah Candipuro telah kembali normal,” ujarnya.

Dampak Erupsi Masih Terasa

Meski aktivitas sebagian wilayah berangsur pulih, dampak erupsi Gunung Semeru 2025 masih menyisakan luka. Tiga warga mengalami luka bakar akibat paparan awan panas dan kini menjalani perawatan intensif di RSUD Lumajang dan Pasuruan. Kondisi mereka dipantau ketat oleh tim medis, sementara keluarga korban telah mendapat pendampingan dari aparat setempat.

Pada saat yang sama, tim Aju Setiap Saat Siap Bergerak (S3B) Divisi Infanteri 2/Kostrad bersama Koramil 0821-14/Pronojiwo terus melakukan asesmen langsung untuk memetakan tingkat risiko. Mereka menilai zona yang aman, rawan, hingga terlarang untuk dimasuki warga.

Personel Kostrad Bergerak dari Pagi hingga Malam

Transisi menuju stabilitas situasi membutuhkan kerja keras. Karena itu, personel Divif 2 Kostrad dan Babinsa bergerak sejak pagi hingga malam, menembus medan yang penuh tantangan. Cuaca di lokasi dilaporkan mendung, sementara potensi banjir lahar dingin masih mengintai karena hujan terus mengguyur kawasan lereng Semeru.

Kolonel Agung menegaskan bahwa situasi di lapangan relatif terkendali.

“Secara umum kondisi masyarakat terbilang kondusif, namun ancaman banjir lahar dingin masih cukup tinggi seiring intensitas hujan yang terus meningkat,” jelasnya.

Hasil asesmen tim TNI menunjukkan sejumlah titik terdampak mengalami kerusakan berat. Setidaknya 22 rumah warga, satu bangunan sekolah, dan satu gardu listrik dinyatakan rusak parah. Selain itu, sektor pertanian dan peternakan juga menghadapi dampak signifikan. Banyak lahan tertutup material vulkanik, dan sebagian hewan ternak milik warga dilaporkan hilang atau terluka.

Kerusakan ini langsung memengaruhi mata pencaharian warga yang sebagian besar bergantung pada pertanian dan peternakan. Karena itu, TNI menilai perlu adanya langkah cepat untuk menjaga keberlangsungan ekonomi warga setelah masa darurat berakhir.

TNI Perkuat Respons di Zona Terdampak

Untuk mempercepat penanganan, prajurit Divif 2 Kostrad mendirikan tenda peleton, dapur lapangan, dan memperkokoh penyekatan di berbagai titik rawan. Personel juga membantu proses evakuasi barang berharga, memastikan warga bisa menyelamatkan dokumen maupun perabot penting yang belum tersapu material erupsi.

Respons cepat TNI mendapat dukungan penuh Koramil 0821-14/Pronojiwo. Para Babinsa yang sejak awal berada di garis pertama penanganan turut mendampingi warga dan memandu jalur aman evakuasi.

Pos Komando Dibangun untuk Koordinasi Terpusat

Sebagai langkah strategis, TNI mendirikan Pos Komando di depan Balai Desa Supiturang. Sementara itu, pos siaga tambahan ditempatkan di Dusun Gemuk Mas dan Dusun Sumbersari. Dengan pola koordinasi terpusat ini, setiap laporan bisa ditindaklanjuti dalam hitungan menit.

Posko tersebut menjadi pusat koordinasi antara TNI, BPBD, aparat desa, hingga relawan. Setiap malam dilakukan evaluasi untuk menentukan prioritas evakuasi, penanganan medis, dan kebutuhan logistik esok hari.

Kolonel Agung menegaskan bahwa seluruh satuan di lapangan akan terus memperkuat kesiapan operasi. Ia kembali menekankan komitmen TNI untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana.

“Satuan TNI di lapangan akan terus memperkuat sinergi dan kesiapan operasi kemanusiaan hingga situasi dinyatakan aman sepenuhnya, sebagai bentuk komitmen TNI membantu pemerintah daerah dalam melindungi rakyat dari ancaman bencana alam,” tegasnya.

Harapan Warga untuk Pemulihan Cepat

Meski masih dalam kondisi darurat, warga berharap proses pemulihan wilayah terdampak erupsi Gunung Semeru 2025 dapat berjalan cepat. Banyak dari mereka masih menunggu kondisi rumah benar-benar aman sebelum kembali ke aktivitas normal.

Dengan kehadiran TNI dan intensifnya penanganan di Pronojiwo, harapan itu mulai terlihat. Sinergi antarinstansi diyakini akan mempercepat proses pemulihan, terutama di sektor hunian dan lahan produktif.

(Redaksi)

1.168 Tayangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *