INTERNASIONAL

Konflik Iran-AS Memanas, Teheran Tegaskan Tak Cari Konsesi dari Washington

SOROTMATA.ID  – Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung hingga kini sejak pecah pada Februari 2026  lalu.

Di tengah negosiasi damai yang masih alot, pemerintah Iran menegaskan tidak mencari konsesi tambahan dari Washington.

Iran hanya menuntut pemulihan hak-hak Teheran termasuk pencabutan sanksi ekonomi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Jumat (22/5) waktu setempat.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan serta konflik yang terus berkembang antara Iran, AS, dan Israel.

“Kami tidak menginginkan konsesi apa pun dari Amerika Serikat; kami hanya memperjuangkan hak-hak kami,” tegas Baghaei.

Ia menambahkan bahwa selama puluhan tahun rakyat Iran menjadi sasaran tekanan ekonomi melalui berbagai sanksi yang diberlakukan Washington.

Iran Tuntut Sanksi Dicabut

Baghaei menilai kebijakan sanksi AS telah memberikan dampak besar terhadap ekonomi dan kehidupan masyarakat Iran. Karena itu, Teheran meminta Washington segera mengakhiri tekanan ekonomi tersebut.

“Sanksi-sanksi harus dicabut, aset-aset Iran yang dibekukan harus dicairkan dan dibuat tersedia untuk negara,” cetusnya.

Menurut Baghaei, AS selama ini menggunakan berbagai alasan untuk menjatuhkan sanksi kepada Iran, terutama terkait tuduhan ancaman nuklir. Namun, Iran kembali menolak tuduhan tersebut.

“Tidak ada ancaman nuklir dari Iran terhadap aktor mana pun di kawasan atau dunia,” tegasnya.

Ia juga menyebut bahwa selama hampir lima dekade Iran menghadapi apa yang disebut AS sebagai “sanksi-sanksi yang melumpuhkan”.

“Selama lima dekade terakhir, kami telah dikenai apa yang mereka sendiri sebut sebagai ‘sanksi-sanksi yang melumpuhkan’,” ucap Baghaei.

Ketegangan di Selat Hormuz Memanas

Selain membahas negosiasi dengan AS, Baghaei juga menyoroti situasi di Selat Hormuz yang kini menjadi pusat ketegangan baru. Iran mengecam langkah AS yang memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang berlayar dari dan menuju pelabuhan Iran.

Baghaei menyebut kebijakan tersebut melanggar hukum internasional dan memperburuk stabilitas kawasan.

“Blokade laut yang diberlakukan Amerika sepenuhnya bertentangan dengan hukum internasional,” katanya.

Ia juga meminta Washington segera menghentikan langkah tersebut demi menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak dan gas global. Gangguan di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga energi internasional.

Konflik Iran, AS, dan Israel Terus Berkembang

Ketegangan kawasan meningkat sejak akhir Februari lalu ketika AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.

Di tengah konflik tersebut, Iran secara efektif menutup aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Langkah itu mendorong AS memperketat pengawasan dan memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran.

Situasi tersebut membuat proses negosiasi berjalan sulit. Meski Pakistan terus berupaya menjadi mediator, kedua negara masih mempertahankan posisi masing-masing.

Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur dari tuntutan pencabutan sanksi dan pemulihan hak ekonomi negara. Sementara itu, AS tetap menekan Iran terkait program nuklir dan keamanan kawasan Timur Tengah.

(*)

1.168 Tayangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *