Respon Aliansi Kotak Kosong di Debat Perdana Pilwali Samarinda: Harusnya Dihadirkan di Depan Masyarakat Kota Tepian
SOROTMATA.ID, SAMARINDA – Debat perdana Pemilihan Wali Kota Samarinda yang sukses digelar di Jakarta pada Senin (4/11/2024) malam tadi rupanya tak selalu mendapat respon positif. Sebab sebagian masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Kotak Kosong, merasa kalau debat yang dilakukan di Pulau Jawa itu kurang relevan.
Karena, pasangan calon yang berlaga yakni Andi Harun-Saefuddin Zuhri tak bertatap muka langsung dengan masyarakat Kota Tepian.
“Tanggapan kami bahawa seharusnya acara malam tadi itu debat publik, yang harusnya dimunculkan dihadapan publik. Nah kalau (alasannya) untuk kebutuhan media, seharusnya Kompas TV bisa ke Samarinda. Agar visi misi calon bisa mendengar langsung. Sedangkan yang seperti ini belum tentu sebagian besar masyarakat bisa menyaksikan,” ucap Ketua Aliansi Kotak Kosong, Niko Hendra.
Kritik Niko terhadap lokasi pelaksanaan debat perdana bukan tanpa alasan. Karena menurut dia, Paslon Andi Harun-Saefuddin Zuhri akan lebih baik jika berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Seharusnya dihadirkan di depan masyarakat agar bisa terjadi tanya jawab secara langsung antara calon pemimpin dengan masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, Niko juga menyorot materi pertanyaan yang disampaikan panelis kepada pasangan calon. Kata dia, bobot materi pertanyaan tak menyampaikan inti dari keresahan besar masyarakat Samarinda. Khususnya tentang mengurangi angka pengangguran.
“Seharusnya yang paling utama adalah bisa menghadirkan pembangunan ekonomi di Samarinda. Itu juga diakui oleh pasangan calon, kalau 70 persen pengangguran itu ada diusia 19-24 tahun sedangkan itu adalah usia produktif. Jadi seharusnya pemerintah bisa menghadirkan solusi terbaik, dan perspektif itu yang belum ada kami lihat pada debat perdana,” kritisnya.
Lanjut Niko, debat perdana Pilwali Samarinda ini tak begitu menggairahkan. Terlebih masyarakat yang ingin memastikan gagasan para calon pemimpin. Sebab Andi Harun-Saefuddin Zuhri hanya pasangan tunggal yang tak memiliki lawan debat.
“Kami melihat ini bukan debat. Lebih tepatnya ini hanya sebatas wawancara dan menjawab pertanyaan panelis. Seharusnya dihadirkan dihadapan publik biar terjadi tanya jawab dengan masyarakat. Pertanyaan panelis juga belum menjawab inti keresahan masyarakat,” pungkasnya.
(tim redaksi)
