Pemerintah Waspadai Lonjakan Harga Minyak Dunia Akibat Konflik Timur Tengah
SOROTMATA.ID – Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran menyebabkan harga minyak dunia melonjak 7 persen.
Eskalasi tersebut merusak sejumlah kapal tanker dan mengganggu pengiriman dari wilayah produsen minyak utama dunia.
Gangguan ini membuat pasar minyak bereaksi cepat dengan kenaikan harga, karena investor dan negara-negara importir khawatir akan terganggunya pasokan di jalur-jalur strategis.
Respons Pemerintah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons kenaikan harga minyak dunia dan menilai situasi ini perlu antisipasi oleh pemerintah Indonesia.
Airlangga mengatakan eskalasi perang dapat mengganggu suplai minyak global, terutama karena jalur pengiriman strategis seperti Selat Hormuz di Iran dan Laut Merah di Arab Saudi terdampak langsung.
“Supply minyak itu karena Selat Hormuz kan terganggu, belum juga Red Sea (Laut Merah). Jadi kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlaku,” ujar Airlangga, di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (2/3).
Airlangga menekankan bahwa pemerintah telah mengambil langkah antisipatif. Indonesia memiliki nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) terkait suplai minyak dari negara non-Timur Tengah.
Dengan strategi ini, pemerintah berharap dapat menjaga kestabilan pasokan meski terjadi konflik di kawasan Timur Tengah.
“Pemerintah sudah punya MOU untuk mendapatkan supply dari non middle east. Misalnya kemarin Pertamina sudah bikin MOU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain,” kata Airlangga.
Mengenai potensi impor minyak dari Rusia, Airlangga menegaskan pemerintah akan terus memantau dan menilai negara produsen mana yang bisa menjadi sumber alternatif.
“Tentu kita monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor,” ujarnya.
Dampak Kenaikan Harga Minyak
Selain itu, Airlangga juga mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak dunia akan berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi di dalam negeri. Ia menyebut fenomena ini serupa dengan lonjakan harga saat konflik Ukraina, meski situasi saat ini memiliki beberapa perbedaan.
“Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraina kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” kata Airlangga.
Pemerintah menilai bahwa langkah-langkah seperti peningkatan kapasitas produksi oleh OPEC dan suplai tambahan dari Amerika Serikat dapat menahan kenaikan harga minyak dunia agar tidak terlalu ekstrem.
Namun, pemerintah tetap memantau perkembangan konflik di Timur Tengah secara ketat. Karena setiap gangguan baru bisa langsung memengaruhi harga minyak global dan harga BBM domestik.
Dengan adanya MoU dan strategi diversifikasi sumber minyak. Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan pada wilayah konflik dan menjaga stabilitas pasokan energi bagi masyarakat.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengantisipasi risiko geopolitik sekaligus melindungi ekonomi domestik dari gejolak harga minyak dunia.
(*)
