Serangan ke Iran, Trump Targetkan Operasi Militer Berlangsung Selama Empat Pekan
SOROTMATA.ID – Eskalasi ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan serangan militer besar-besaran ke berbagai wilayah di Iran, termasuk ibu kota Teheran, pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.
Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan apa yang ia sebut sebagai “operasi tempur besar” (major combat operations) terhadap Negeri Para Mullāh tersebut.
Trump menyatakan bahwa operasi militer gabungan terhadap Iran akan berlangsung selama empat pekan.
Ia menegaskan bahwa durasi selama empat pekan sudah diperhitungkan secara matang oleh pihaknya bersama Israel dalam operasi gabungan berskala besar yang kini berlangsung.
Trump menyampaikan keyakinannya terkait durasi operasi tersebut.
“Ini selalu merupakan proses empat minggu. Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu,” kata trump seperti pemberitaan Daily Mail.
Trump menekankan bahwa kekuatan Iran tidak akan mengubah rencana militer yang telah telah mereka susun.
Ia menilai operasi tersebut tetap dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang sama, terlepas dari luas wilayah dan kapasitas militer Iran.
“Sekuat apa pun negara itu, ini adalah negara besar, akan memakan waktu empat minggu atau kurang,” kata Trump.
Amerika Serikat dan Israel memulai operasi militer gabungan pada Sabtu (28/2) dengan melancarkan serangan intensif ke berbagai target strategis.
Mereka menargetkan fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Lokasi peluncuran rudal balistik dan drone, pangkalan udara militer, serta sistem pertahanan udara Iran.
Serangan tersebut bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan respons militer Iran secara cepat dan terukur.
Klaim Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran
Dalam perkembangan dramatis, operasi itu disebut telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Selain itu, serangan gabungan tersebut juga menghantam sejumlah infrastruktur militer utama yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan Iran.
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai hampir 750 lainnya.
Organisasi itu mencatat bahwa serangan menghantam 24 dari 31 provinsi di seluruh Iran. Ini menunjukkan luasnya cakupan operasi militer yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang menyelidiki laporan mengenai dugaan serangan yang menghantam sebuah sekolah perempuan di Iran selatan.
Pejabat Iran menyatakan bahwa insiden tersebut menewaskan lebih dari 100 siswi. CENTCOM menyatakan akan menelusuri laporan tersebut untuk memastikan fakta di lapangan.
Sementara itu, Angkatan Udara Israel mengerahkan lebih dari 200 jet tempur dalam apa yang disebut sebagai penerbangan militer terbesar dalam sejarah Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Gelombang serangan udara itu menyasar lokasi peluncuran rudal Iran, pangkalan udara IRGC, serta sistem pertahanan di wilayah barat dan tengah Iran.
IDF menyatakan bahwa pihaknya telah menghantam sistem pertahanan utama Iran dan menyerang lebih dari 500 target strategis.
Mereka mengklaim serangan tersebut berhasil melemahkan kapasitas peluncuran rudal dan mengurangi ancaman terhadap wilayah Israel.
Dengan operasi yang terus berlangsung, pernyataan Trump mengenai durasi empat pekan menjadi sorotan utama. Pemerintah AS dan Israel kini melanjutkan tekanan militer terhadap Iran sambil memantau respons dan dampak lanjutan dari operasi yang mereka jalankan.
(*)
