Amerika Serikat Ancam Iran, Trump Tegaskan Pembangkit Listrik Jadi Target
SOROTMATA.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah serangan udara yang menghancurkan jembatan baru di dekat Teheran. Serangan tersebut, menurut laporan media pemerintah Iran, menewaskan delapan orang dan melukai 95 lainnya.
Presiden AS Donald Trump kemudian melontarkan ancaman lebih keras melalui unggahan di platform Truth Social pada Jumat (3/4/2026). Ia menegaskan bahwa pembangkit listrik Iran bisa menjadi sasaran berikutnya jika kepemimpinan negara itu tidak segera mengambil langkah yang dianggap perlu oleh Washington.
“Kepemimpinan rezim baru tahu apa yang harus dilakukan, dan harus melakukannya dengan cepat,” tulis Trump. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat “bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran.”
Meski demikian, Trump tidak merinci apa yang dimaksud dengan “langkah yang harus dilakukan” oleh Iran.
Ketidakjelasan ini menimbulkan spekulasi luas mengenai tuntutan sebenarnya dari Washington, sekaligus memperdalam kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan.
Jet Tempur AS F-35 Ditembak Jatuh
Beberapa jam kemudian, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa pasukan Iran telah menembak jatuh sebuah jet tempur F-35 AS di Iran Tengah. Foto puing-puing yang beredar di Telegram menunjukkan tulisan “Angkatan Udara AS di Eropa” pada bagian seperti ekor pesawat.
Ancaman terbaru Trump muncul sehari setelah ia menyampaikan pidato yang menyatakan bahwa militer AS akan menyerang Iran dengan sangat keras selama 2–3 minggu ke depan. Ia menambahkan bahwa AS akan “mengembalikan mereka ke zaman batu tempat mereka seharusnya berada”.
Ancaman penghancuran pembangkit listrik ini bukan yang pertama kali.
Sebelumnya, Donald Trump telah mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait blokade Selat Hormuz.
Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menegaskan bahwa Iran harus membuka jalur vital perdagangan minyak dunia tersebut.
Jika Iran tidak melakukannya, AS akan melancarkan serangan militer yang menargetkan pembangkit listrik Iran, mulai dari yang terbesar.
“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, mulai dari yang terbesar terlebih dulu,” tulis Trump dalam pernyataannya.
Namun, Iran menanggapi ultimatum Trump dengan mengancam akan menyerang fasilitas vital milik AS dan Israel.
Juru bicara Komando Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa Iran siap menyerang balik.
“Menindaklanjuti peringatan sebelumnya, jika musuh merusak infrastruktur bahan bakar dan energi Iran, kami akan menjadikan semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik AS dan rezim di kawasan sebagai sasaran,” ujarnya dalam pernyataan yang dimuat Fars.
(*)
