FILM

Film ‘Wicked: For Good’ Angkat Isu Imigrasi dan Propaganda, Jadi Film Paling Politis Tahun Ini

SOROTMATA.ID – Para penggemar film musikal “Wicked” mudah terseret dalam keajaiban, musik, serta ikatan persahabatan antara dua tokoh sentral, Glinda dan Elphaba. Namun, mereka juga sulit mengabaikan dasar-dasar politik yang sudah membayangi film pertama. 

Latar politik ini kini semakin menonjol dan bersinar terang dalam film lanjutannya, “Wicked: For Good,” yang telah tayang di bioskop. Film ini mengokohkan posisinya sebagai salah satu karya sinema paling politis tahun ini.

Bagian pertama adaptasi sinematik yang disutradarai oleh Jon M. Chu, yang tahun lalu masuk nominasi Best Picture Oscar, sudah membawa tema ketegangan rasial. Film tersebut membayangkan asal-usul Penyihir Jahat dari Barat (Wicked Witch of the West). Ia juga mengeksplorasi hubungannya dengan Glinda Si Baik (Glinda the Good). 

Inti cerita menyisipkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana masyarakat Oz menerima atau menolak mereka yang mereka anggap sebagai Liyan (Other). Kita menyaksikan Glinda (Ariana Grande) pada mulanya meremehkan Elphaba (Cynthia Erivo) yang berkulit hijau, sebelum akhirnya hubungan mereka menghangat.

Ikatan persahabatan mereka yang rapuh teruji ketika mereka menemukan fakta mengejutkan. Wizard of Oz (Jeff Goldblum) yang mereka takuti dan hormati, ternyata merupakan seorang manipulator ulung. Wizard bermaksud menggunakan Elphaba untuk mencapai tujuannya, yaitu membungkam hewan-hewan ajaib Oz. 

Hak-hak hewan-hewan ini semakin terampas, dan mereka mulai kehilangan kemampuan berbicaranya. Sang Wizard bekerja sama dengan guru Elphaba, Madame Morrible (Michelle Yeoh), untuk menyusun propaganda masif. Mereka menyebarkan narasi bohong tentang Elphaba ke seluruh Oz, lantas memberinya identitas sebagai penyihir jahat.

Babak penutup, “Wicked: For Good,” menaikkan taruhan politik secara signifikan. Film ini bersandar kuat pada topik politik panas lain yang relevan secara global, imigrasi.

Salah satu adegan paling penting menampilkan Boq (Ethan Slater) dari Munchkinland. Ia berniat pergi ke stasiun kereta untuk mewujudkan keinginannya bepergian ke Kota Zamrud (Emerald City). 

Tujuannya adalah menyatakan cintanya kepada Glinda. Namun, sesampainya di stasiun, Boq terkejut dan ngeri. Ia mengetahui bahwa hewan dan Munchkin kini dibatasi bepergian mereka wajib memiliki izin khusus untuk melakukannya. Gubernur Munchkinland yang baru, Nessarose Thropp (Marissa Bode) yang terobsesi pada Boq mengatur kebijakan diskriminatif ini.

Adegan tersebut secara dramatis menggambarkan momen-momen mencekam. Para Munchkin dihalangi bergerak bebas. Kemudian dalam film, penonton melihat beberapa hewan Oz disembunyikan. Mereka berada di ruang bawah tanah di dalam istana Wizard di Emerald City, terkunci dalam kandang.

Adegan-adegan pembatasan pergerakan dan penangkapan ini menampilkan kemiripan yang mengerikan. Banyak penonton segera teringat pada gambar dan kisah familiar dari mereka yang terkena dampak tindakan keras pemerintah terhadap imigran di dunia nyata.

Di dunia Oz, Sang Wizard juga secara aktif menargetkan kelompok yang ia anggap ancaman. Ia bahkan terang-terangan mengatakan, “Cara terbaik untuk menyatukan orang adalah dengan memberi mereka musuh yang sangat baik.”

Musuh buatan ini adalah para hewan, sebuah gagasan yang Elphaba tolak mentah-mentah. Dalam “Wicked: For Good,” kita melihat Elphaba melakukan intervensi aktif melawan kegiatan Sang Wizard. Ia mengganggu pembangunan Jalan Bata Kuning (Yellow Brick Road). 

Elphaba mencoba menyebarkan informasi krusial bahwa Wizard berbohong kepada penduduk Oz. Tindakan Wizard menyebabkan para hewan melarikan diri karena ketakutan. Penonton menyaksikan upaya pelarian mereka melalui terowongan bawah tanah yang terletak di bawah Jalan Bata Kuning.

Novel “Wicked: The Life and Times of the Wicked Witch of the West” (1995) karya Gregory Maguire, yang menjadi sumber adaptasi film dan musikal Broadway, memang merupakan teks yang gelap. Novel itu syarat akan kritik sosial tajam.

Philip Lightstone, yang memiliki pengalaman luas sebagai swing dan dance captain dalam tur nasional resmi musikal “Wicked,” berpendapat positif mengenai adaptasi film ini. 

Film mendapat ruang lebih luas untuk memperlihatkan berbagai sisi masyarakat Ozian yang hanya dideskripsikan dalam novel. Musikal yang berlangsung lama itu tidak pernah mampu menggali elemen-elemen ini secara mendalam.

Dalam “Wicked: For Good,” film ini menggarisbawahi gagasan kunci. Kekuatan politik setara dengan siapa yang memiliki kemampuan menyebarkan informasi. Hal ini berlaku bahkan jika kebenaran di baliknya meragukan.

“Latar belakangnya benar-benar tentang politik, propaganda, kebenaran siapa yang nyata, semacam itu,Siapa pun yang memegang kendali akan menentukan apa yang disebut sebagai kebenaran, apa yang nyata.”  kata Lightstone. 

Adegan-adegan yang lebih mendalam dalam “For Good” kemungkinan besar akan menyentuh hati penonton. Adegan tersebut mungkin juga memicu reaksi balik dari mereka yang sensitif terhadap isu politik, sama seperti yang terjadi pada film pertamanya.

Namun, mereka yang mempermasalahkan film karena dianggap terlalu politis, terang-terangan telah salah memahami inti dari karya ini dalam segala bentuknya. Lightstone menceritakan bahwa tim sutradara tur, dipimpin oleh Joe Mantello, dan koreografer, dipimpin oleh Wayne Cilento, selalu menggunakan peristiwa politik aktual. Mereka melakukan ini untuk membantu para pemain terhubung secara emosional dengan apa yang mereka perankan di atas panggung.

“Mereka selalu berbicara tentang menghubungkan apa pun yang terjadi secara politis bahkan jika ada sesuatu yang super spesifik, larangan perjalanan atau ini atau itu agar para pemain dapat terhubung dengannya,” kata Lightstone. 

Ia menekankan bahwa penonton harus bisa menghubungkan pertunjukan dengan sesuatu yang mereka pahami secara politis agar pesan pertunjukan sampai.

Adegan Elphaba berdiri di atas lubang di Jalan Bata Kuning yang mengarah ke terowongan bawah tanah semakin memperkuat pesan tersebut. Banyak penonton tentu mengenali Erivo juga memerankan tokoh pembebas budak dan tokoh Underground Railroad, Harriet Tubman, dalam film nominasi Oscar tahun 2019, Harriet.

Dirilis tepat pada saat musim penghargaan mulai memanas, “Wicked: For Good” bergabung dengan jajaran film bermuatan politik yang solid tahun ini. Film ini menjadi bagian dari narasi sinematik yang kuat, membuktikan bahwa bahkan dongeng sihir pun dapat menginspirasi percakapan tentang masalah dunia nyata yang serius dan berdampak pada banyak keluarga. 

(Redaksi)

1.107 Tayangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *