Pernyataan “Orang Luar Daerah” Tuai Kecaman, Ketum SRKB: “Kalau Sudah Ber-KTP Kaltim, Dia Orang Kaltim!”
SOROTMATA.ID – Di tengah memanasnya polemik ucapan anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) berinisial AG yang diduga mengandung sentimen SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), Ketua Umum Solidaritas Rakyat Kaltim Bersatu (SRKB) sekaligus Ketua DPW Solidaritas Merah Putih (Solmet) Kaltim, Decky Samuel, menyerukan pentingnya menjaga semangat kebhinekaan di Bumi Etam.
Ia menegaskan, identitas daerah tidak boleh dijadikan pembatas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Decky Samuel menilai, ucapan anggota dewan yang menyebut soal “orang luar daerah yang mencari makan di Kaltim” memang tidak secara eksplisit mengandung unsur SARA. Namun, menurutnya, kalimat tersebut tetap tidak bijak diucapkan oleh seorang pejabat publik, terlebih di era keterbukaan informasi saat ini.
“Saya sudah menonton video itu berulang kali. Sebagai pejabat publik, seharusnya beliau bisa lebih menahan diri. Ucapan seperti itu kurang pantas, karena bisa menimbulkan salah tafsir di masyarakat,” ujar Decky, Senin (13/10/2025).
Decky menilai, pernyataan yang menyebut adanya “orang luar daerah yang mencari makan di Kaltim” memang tidak secara eksplisit mengandung unsur SARA. Namun, menurutnya, kalimat itu tetap tidak bijak diucapkan, terlebih oleh seorang anggota legislatif yang mewakili seluruh warga Kaltim tanpa terkecuali.
“Kalau kita bicara konteks kebangsaan, semua warga negara berhak hidup dan mencari penghidupan di mana pun. Itu hak konstitusional,” tegasnya.
Menurut Decky, semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seharusnya sudah menuntaskan sekat-sekat primordial seperti asal daerah atau suku. Ia menilai perbedaan justru menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling curiga atau merasa tersisih.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kalau sudah ber-KTP Kaltim, ya dia orang Kaltim. Tidak perlu dibedakan lagi,” katanya.
Meski demikian, Decky memahami bahwa pernyataan tersebut bisa jadi muncul dari alam bawah sadar sebagian masyarakat lokal yang merasa tersisih oleh arus migrasi dan kompetisi ekonomi. Ia mengingatkan bahwa kondisi seperti itu harus disikapi dengan kedewasaan politik, bukan dengan retorika yang justru memperlebar jarak sosial.
“Saya bisa memahami mungkin ada rasa risih di sebagian masyarakat. Tapi solusinya bukan dengan menyinggung pihak lain, melainkan dengan membangun kolaborasi,” jelasnya.
Decky menegaskan, sebagai provinsi yang kini menjadi pusat perhatian nasional karena pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur harus menjadi contoh dalam menjaga harmoni kebangsaan. Ia mendorong agar pemerintah daerah bersama Kesbangpol memperkuat sinergi lintas paguyuban untuk memperkuat semangat persaudaraan antarwarga.
“Kaltim ini sudah menjadi miniatur Indonesia. Orang dari berbagai suku dan daerah hidup di sini. Sudah seharusnya kita menjadi contoh bagaimana perbedaan bisa dirawat, bukan dijadikan bahan gesekan,” ujar Decky Samuel.
Ia juga mengimbau agar polemik di ruang publik tidak diperpanjang, melainkan dijadikan momentum refleksi bersama — baik bagi masyarakat maupun pejabat publik.
“Saya berharap, khususnya untuk para wakil rakyat yang masih muda, jadikan ini pelajaran penting. Setiap kata yang keluar dari pejabat publik punya dampak besar. Mari kita sama-sama dewasa dalam menjaga kebhinekaan,” tutupnya.
(tim redaksi)
