NASIONAL

Fakta Pondok Pesantren Al Zaytun, Bertentangan dengan Syariat Islam hingga Aliran Dana dari Kementerian Agama

SOROTMATA.ID – Dugaan aliran sesat di Pondok Pesantren Al Zaytun Indramayu tetap menjadi sorotan publik.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menemukan fakta baru, Pondok Pesantren Al-Zaytun di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat berafiliasi dengan Negara Islam Indonesia (NII).

“Hasil penelitian MUI sudah jelas bahwa itu terindikasi atau terafiliasi dengan gerakan NII, sudah sangat jelas,” KATA akil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Hukum dan HAM Ikhsan Abdullah

Bertentangan dengan Syariat Islam

Ketua Umum MUI Kabupaten Indramayu, Syatori menyatakan bahwa syariat yang digunakan di Al-Zaytun sangat berbeda dengan ajaran Islam pada umumnya, baik salat, puasa, maupun haji.

“Syariat yang dilakukan oleh Al-Zaytun sangat tidak sama dengan tata cara peribadatan umat Islam pada umumnya,” katanya.

Menurutnya, banyak informasi yang menunjukkan bahwa Al-Zaytun sangat menyimpang dari syariat Islam pada umumnya, baik itu salat, puasa maupun haji.

Perbedaan syariat yang dijalankan Al-Zaytun dengan umat Islam pada umumnya, tentu membuktikan bahwa mereka itu mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai ketentuan.

Dapat Izin Kemenag

Ramianya sorotan pada Ponpes Al-Zaytun juga mendapaykan sorotan dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Ridwan Kamin mengakui jika dirinya tidak memiliki kewenangan untuk membubarkan Ponpes Al-Zaytun.

Sebab kata dia yang memiliki kewenangan membubarkan Ponpes ada di Kementerian Agama.

“Pembubaran hanya dilakukan oleh Kementerian Agama yang memberikan izin, izinnya ada di Kementerian Agama karena sifatnya pesantren Diniyah, Aliyah dan seterusnya di mana dana dari Kementerian Agama kurang lebih setiap tahun ada sekian miliar juga ke Al-Zaytun,” kata dia, Rabu (21/6).

Ridwan Kamil belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut sebelum ada keterangan dari pihak Al-Zaytun yang dijadwalkan datang pada Kamis dan Jumat pekan ini.

Dia menyebut pembentukan tim investigasi sudah berdasarkan proses dan tidak spontan melihat eskalasi polemik.

“Kan harus ada kajian yang komprehensif, emang kalau ada kejadian yang viral harus tanpa tabayyun sebuah upaya tindakan? Kan tidak. Semua tidak bisa grasak grusuk,” kata dia.

“Saya harus adil mendengarkan dan membentuk tim investigasi,” dia melanjutkan.

Disinggung apakah dirinya pernah berkunjung atau bertemu dengan pimpinan Al-Zaytun, Panji Gumilang, Ridwan Kamil mengaku belum pernah.

“Belum pernah (bertemu Panji Gumilang),” pungkasnya.

(*)

1.074 Tayangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *