Tambang Nikel Masuk Raja Ampat, Efek “Indonesia Penghasil Nikel Terbesar” dari Mimpi Jokowi ?
SOROTMATA.ID – Kebijakan hilirisasi mineral atau hilirisasi nikel yang digaungkan Presiden Joko Widodo sejak awal masa jabatannya kini menampakkan dampaknya hingga ke ujung timur Indonesia yang dilindungi.
Setelah Sulawesi dan Maluku menjadi pusat aktivitas pengolahan nikel, kini giliran Papua Barat, khususnya Raja Ampat, masuk dalam radar ekspansi tambang nikel nasional.
Raja Ampat selama ini dikenal dunia sebagai kawasan konservasi laut dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Namun, belakangan muncul perhatian serius terhadap aktivitas pertambangan nikel yang mulai bergerak di wilayah ini.
Sejumlah dokumen perizinan yang telah terbit dari tahun 2017 dan aktivitas eksplorasi awal menjadi sinyal bahwa arah kebijakan mineral nasional telah menyentuh kawasan yang sebelumnya dilindungi.
Masuknya industri tambang ke Raja Ampat disebut-sebut sebagai efek lanjutan dari upaya pemerintah pusat mewujudkan Indonesia sebagai pusat industri baterai dunia. Nikel, sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik, diposisikan sebagai komoditas strategis nasional. Visi ini telah mendorong berbagai pihak, termasuk investor dan pemilik konsesi, untuk memperluas operasi hingga ke wilayah terpencil yang kaya akan potensi mineral.
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) pun pernah menyebut mobil listrik menjadi masa depan industri otomotif Indonesia.
Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya alam nikel yang menjadi bahan baku baterai mobil listrik.
Menurut data, Indonesia merupakan negara dengan produksi bijih nikel tertinggi di dunia, berdasarkan data United State Geological Survey (USGS) dan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Produksi bijih nikel Indonesia sekitar 1,6 juta ton pada 2022.
Indonesia merupakan negara yang memiliki 52 persen cadangan nikel di dunia.
Secara jumlah, Indonesia mempunyai 5,2 miliar ton yang terbagi dalam jenis limonit sebanyak 1,5 miliar ton dan saprolit 3,5, miliar ton.
Dalam mewujudkan ekosistem mobil nasional, pemanfaatan nikel dinilai menjadi hal yang wajib dilakukan.
Jumlah itu terpaut jauh dengan Filipina yang menduduki peringkat kedua dunia dengan produksi sekitar 330.000 ton, dan Rusia di peringkat ketiga dengan produksi 220.000 ton.
“Ya memang masa depan otomotif Indonesia itu di mobil listrik karena kita memiliki bahan baku nikel dan yang lainnya,” katanya di sela-sela kunjungannya di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024 di JI-Expo Kemayoran Jakarta, Kamis (15/2/2024).
Latar Belakang Tambang PT Gag Nikel

PT Gag Nikel merupakan perusahaan tambang yang memiliki konsesi di Pulau Gag, wilayah yang sempat masuk dalam Taman Nasional namun kemudian dikeluarkan dari status tersebut untuk membuka ruang pertambangan. Perusahaan ini telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan termasuk dalam proyek strategis nasional sebagai bagian dari hilirisasi industri nikel nasional.
Namun, sejak operasionalnya kembali mencuat pada 2024–2025, berbagai pihak mulai mempertanyakan dampaknya terhadap ekosistem Raja Ampat, yang merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia dan menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara.
Respon Pemerintah: Setop Sementara dan Kirim Tim ke Lokasi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menghentikan sementara operasional tambang tersebut. Menurut Bahlil, langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam menanggapi keresahan masyarakat dan media terkait potensi dampak lingkungan di kawasan konservasi tersebut.
“Untuk sementara kegiatan produksinya di-stop dulu sampai menunggu hasil peninjauan dan verifikasi dari tim saya,” ujar Bahlil, Jumat (6/6/2025), dilansir dari Wartakotalive.com.
Ia menambahkan, Kementerian ESDM telah menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan teknis dan administratif. Pemerintah ingin memastikan bahwa seluruh tahapan aktivitas pertambangan, mulai dari perizinan hingga pelaksanaan operasional di lapangan, berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kunjungan Menteri: Akan Pantau Langsung ke Raja Ampat
Bahlil juga menyatakan bahwa ia akan mengunjungi langsung lokasi tambang nikel PT Gag Nikel dalam waktu dekat. Kunjungan itu dilakukan bertepatan dengan agendanya ke Sorong dan wilayah Kepala Burung di Papua Barat, untuk meninjau sumur-sumur minyak dan gas di Sorong, Fak-Fak, dan Teluk Bintuni.
“Ini kebetulan saja, dalam waktu minggu-minggu ini saya lagi mau ke Sorong sesuai dengan agenda saya beberapa minggu lalu,” ujar Bahlil.
Kementerian Lingkungan Hidup Siap Ambil Langkah Hukum
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), , menyatakan bahwa pihaknya juga telah memetakan kawasan Raja Ampat dan siap bertindak tegas apabila ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan lingkungan hidup dalam aktivitas tambang tersebut.
“Raja Ampat sudah kami teliti, sudah kami lakukan mapping. Secepatnya kami akan ke sana atau paling tidak kami akan segerakan ambil langkah hukum terkait kegiatan setelah melalui kajian-kajian,” kata Hanif dalam pernyataannya di Bali, Kamis (5/6/2025).
Ia juga menyebutkan bahwa dalam waktu dekat, tim dari Kementerian LHK akan turun langsung ke lokasi untuk memastikan apakah kegiatan tambang yang dilakukan telah memenuhi ketentuan tata ruang, perlindungan keanekaragaman hayati, dan keberlanjutan lingkungan.
(Redaksi)
