NASIONAL

Menghidupkan Kembali Semangat Dasasila Bandung Lewat Diplomasi Kebudayaan Global

SOROTMATA.ID – Perayaan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) saat ini menjadi momentum krusial bagi Indonesia untuk mempertegas posisi kebudayaan di kancah internasional.

Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI menginisiasi acara ini sebagai langkah taktis untuk memperkuat Semangat Dasasila Bandung. Melalui narasi “Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia”,

Pemerintah mengajak dunia melihat kembali nilai-nilai historis 1955. Selain itu, pelaksanaan acara di Hotel Savoy Homann memberikan atmosfer nostalgia sekaligus urgensi terhadap kondisi geopolitik modern.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pandangan mendalam mengenai peran strategis kebudayaan di tengah ketidakpastian dunia.

Beliau menilai bahwa tantangan zaman saat ini menuntut setiap negara untuk kembali pada komitmen persaudaraan bangsa-bangsa. Dengan demikian, Semangat Dasasila Bandung bukan sekadar catatan sejarah, melainkan instrumen aktif untuk meredam tensi rivalitas global.

Acara ini secara spesifik menyoroti bagaimana warisan sejarah mampu menjadi perekat di tengah ancaman erosi kepercayaan antarnegara yang kian meningkat.

Fadli Zon Tekankan Perlindungan Warisan Budaya di Zona Konflik

Dalam pidato kebudayaannya, Fadli Zon membedah fenomena uncertain world yang memicu peningkatan perlombaan persenjataan secara masif.

Selanjutnya, beliau mengamati bahwa konflik bersenjata seringkali berdampak fatal terhadap identitas suatu bangsa melalui perusakan situs bersejarah.

Oleh karena itu, beliau mendesak komunitas internasional untuk menjadikan perlindungan budaya sebagai prioritas utama dalam agenda perdamaian. Akibatnya, penyelamatan jejak peradaban harus menjadi tanggung jawab kolektif guna mencegah hilangnya memori sejarah akibat peperangan.

Merespons kondisi tersebut, Fadli Zon memberikan pernyataan tegas mengenai komitmen moral Indonesia di hadapan para delegasi.

“Jika kita ingin membangun perdamaian yang berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan. Kita harus memastikan bahwa tidak ada perang yang menghapus sejarah suatu bangsa, tidak ada dominasi yang membungkam identitas, dan tidak ada sistem global yang mengabaikan suara mereka yang lemah,” tegas Fadli Zon melalui keterangan tertulis pada Minggu (19/4/2026).

Pernyataan ini sekaligus mengukuhkan bahwa Semangat Dasasila Bandung tetap relevan sebagai kompas moral dunia.

Komitmen Non-Blok dan Ambisi Indonesia Emas 2045

Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus memegang teguh jalur politik luar negeri non-blok.

Fadli Zon menjelaskan bahwa Indonesia secara aktif menjunjung tinggi prinsip-prinsip Piagam PBB dalam setiap kerja sama global.

Di sisi lain, fokus utama pemerintah terletak pada pembangunan ketahanan nasional yang komprehensif, mulai dari penguatan sumber daya manusia hingga kemandirian pangan.

Jadi, sinergi antara diplomasi kebudayaan dan kekuatan domestik ini merupakan fondasi utama menuju visi besar Indonesia Emas 2045.

Kemudian, dialog kebudayaan bertajuk “Refleksi Nilai Historis Konferensi Asia Afrika dalam Perspektif Kebudayaan” turut memperkaya rangkaian acara ini.

Sejumlah tokoh penting seperti Duta Besar Mesir untuk Indonesia Yasser Hassan Farag Elshemy dan anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa membedah nilai-nilai KAA secara mendalam.

Selain itu, akademisi Universitas Paramadina Anton Aliabbas juga memberikan analisis strategis mengenai intervensi budaya terhadap kebijakan keamanan.

Staf Ahli Menteri Kebudayaan Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri memandu jalannya diskusi yang berlangsung sangat dinamis tersebut.

Inisiatif Kawasan Asia Afrika Menuju Warisan Dunia UNESCO

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membawa kabar segar mengenai rencana pelestarian identitas kota melalui jalur formal internasional.

Saat ini, Pemerintah Kota Bandung tengah mengusulkan kawasan Simpang Lima hingga Jalan Otista untuk menjadi bagian dari Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Langkah ini bertujuan untuk memproteksi visual sejarah dan atmosfer kota yang menjadi saksi bisu lahirnya Semangat Dasasila Bandung.

Akibatnya, Muhammad Farhan menegaskan bahwa pengakuan internasional akan membantu memperkuat jati diri Bandung sebagai kota perdamaian dunia.

Selain diskusi formal, Kementerian Kebudayaan juga meluncurkan buku berjudul “Konferensi Asia Afrika dalam Gambar”.

Buku tersebut menyajikan dokumentasi visual yang sangat detail mengenai setiap tahapan peristiwa KAA secara kronologis. Fadli Zon menjelaskan bahwa koleksi foto tersebut menangkap esensi kebersamaan para pemimpin dunia saat itu.

“Album ini bercerita tentang bagaimana mulai dari kedatangan para peserta, suasana sidang, bahkan suasana diskusi, sampai dengan acara-acara kebudayaan, yang menggambarkan secara kronologis bagaimana peristiwa KAA terjadi di Bandung,” paparnya secara rinci.

Melalui pameran foto dan narasi edukatif, masyarakat dapat melihat kembali betapa besarnya pengaruh Indonesia dalam menyatukan bangsa-bangsa di dua benua.

Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk terus menjadikan KAA sebagai pilar diplomasi budaya yang produktif.

Upaya ini mencakup pertukaran ilmu pengetahuan serta pelestarian warisan fisik dan non-fisik secara berkelanjutan. Pada akhirnya, kebudayaan berfungsi sebagai instrumen kedaulatan yang mampu merawat jati diri bangsa sekaligus mendorong terciptanya perdamaian dunia yang abadi.

(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *