Lakukan Aksi di HUT ke-80 RI, Aktivis XR Bunga Terung Kaltim Sebut Transisi Energi Jangan Jadi Solusi Palsu
SOROTMATA.ID – Di tengah euforia menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia, suara kritis justru datang dari aktivis lingkungan di Kalimantan Timur. XR Bunga Terung Kaltim menilai kebijakan transisi energi yang dijalankan pemerintah masih sarat dengan praktik eksploitasi dan belum benar-benar berpihak pada kelestarian lingkungan.
Yuni, narahubung XR Bunga Terung Kaltim, menyebut penggunaan panel surya di Kalimantan Timur yang digadang-gadang sebagai energi bersih justru menyisakan masalah baru.
“Penggunaan panel surya di Kalimantan Timur memperpanjang praktik ekstraktivisme karena bahan bakunya, seperti pasir silika, berasal dari tambang yang merusak lingkungan. Ini adalah solusi palsu transisi energi yang hanya mengganti satu bentuk eksploitasi dengan bentuk lain,” tegas Yuni.
Selain itu, Yuni juga menyoroti dampak serius dari lubang-lubang tambang yang ditinggalkan tanpa reklamasi. Menurutnya, kondisi tersebut telah mencemari anak-anak sungai yang bermuara ke Sungai Mahakam dan memperburuk kerusakan ekosistem.
“Lubang-lubang tambang yang tidak direklamasi mencemari anak-anak sungai yang bermuara ke Sungai Mahakam, menambah beban kerusakan ekosistem yang sudah sangat berat,” ungkapnya.
Data dari Auriga Nusantara menunjukkan, Kalimantan Timur menjadi provinsi dengan deforestasi terbesar di Indonesia pada 2024 dengan luasan mencapai 261.575 hektar. Kondisi ini berbanding terbalik dengan klaim transisi energi yang diusung pemerintah sebagai bagian dari komitmen Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Dimana dalam Persetujuan Paris 2015, Indonesia bersama 196 negara lainnya berkomitmen menjaga kenaikan suhu global agar tidak melebihi 1,5 derajat Celsius. Sayangnya, pada tahun 2024 ini, suhu global dilaporkan telah melewati batas aman tersebut. Hal ini menjadi peringatan serius bagi Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen secara mandiri dan 43 persen dengan bantuan internasional pada 2030.
XR Bunga Terung Kaltim pun menyerukan empat tuntutan penting:
- Menolak solusi palsu transisi energi yang diusung dalam berbagai konferensi dunia seperti Paris Agreement dan COP29.
- Menghentikan penggunaan energi fosil, termasuk batu bara, pasir silika, dan nikel, dan beralih ke energi yang berkeadilan dan berkelanjutan.
- Melakukan reklamasi dan pemulihan lingkungan pada lubang tambang yang ditinggalkan sesuai dengan izin usaha pertambangan.
- Menghentikan deforestasi dan alih fungsi lahan berlebihan untuk memulihkan ekosistem sungai di Kalimantan Timur.Bagi Yuni, kemerdekaan sejati bagi Indonesia bukan hanya bebas dari penjajahan, melainkan juga merdeka dari eksploitasi alam yang mengorbankan masa depan rakyat.
“Indonesia harus merdeka dari solusi palsu transisi energi agar krisis iklim yang semakin mengancam dapat ditangani secara nyata dan berkelanjutan,” pungkasnya.
(Redaksi)
