Tekanan Internasional Meningkat, Trump Klaim Iran Ingin Negosiasi di Tengah Gelombang Protes Berdarah
SOROTMATA.ID – Tekanan politik terhadap Iran kian meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Teheran menghubungi Washington untuk membuka jalur negosiasi. Klaim tersebut muncul di tengah eskalasi krisis domestik Iran, menyusul penindakan keras aparat keamanan terhadap demonstrasi nasional yang menewaskan ratusan warga sipil.
Trump menyampaikan pernyataan itu saat berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Minggu (11/1). Ia menyebut para pemimpin Iran telah melakukan kontak langsung dan menyatakan keinginan untuk berunding.
“Para pemimpin Iran menelepon kemarin. Sebuah pertemuan sedang diatur. Mereka ingin bernegosiasi,” kata Trump, seperti dikutip AFP.
Meski demikian, Trump menegaskan situasi di lapangan berkembang sangat cepat dan berpotensi memaksa Amerika Serikat serta komunitas internasional mengambil langkah sebelum pertemuan tersebut terealisasi.
“Kita menyaksikan pembantaian yang sedang berlangsung,” ujar Trump, merujuk pada laporan kekerasan aparat terhadap demonstran.
Klaim Korban Tewas Terus Bertambah
Gelombang protes yang melanda Iran selama dua pekan terakhir memicu perhatian dunia internasional, seiring meningkatnya laporan korban jiwa. Lembaga swadaya masyarakat Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan sedikitnya 192 orang tewas akibat tindakan represif aparat keamanan.
Namun, IHR menyebut angka korban sebenarnya berpotensi jauh lebih besar. Laporan yang belum terverifikasi menunjukkan jumlah korban bisa mencapai ratusan, bahkan perkiraannya melebihi 2.000 orang berdasarkan sejumlah sumber lapangan.
Selain korban jiwa, IHR juga mencatat lebih dari 2.600 demonstran telah aparat keamanan Iran tangkap sejak aksi protes meluas.
“Kami terus menerima laporan penangkapan massal dan penggunaan kekuatan mematikan terhadap warga sipil,” ungkap perwakilan IHR.
Informasi Tetap Mengalir Meski Internet Tak Ada
Laporan saat ini, pemerintah Iran memutus akses internet selama beberapa hari untuk meredam arus informasi. Namun, pembatasan tersebut tidak sepenuhnya berhasil menghentikan penyebaran bukti kekerasan.
Sejumlah video dari Teheran dan kota-kota besar lainnya beredar luas di media sosial dalam tiga malam terakhir. Rekaman tersebut memperlihatkan aksi demonstrasi berskala besar serta bentrokan dengan aparat keamanan.
Salah satu video ada menunjukkan massa kembali berkumpul di distrik Pounak, Teheran, sambil meneriakkan slogan dukungan terhadap monarki yang telah runtuh dalam Revolusi Islam 1979.
Video lain yang dilacak AFP memperlihatkan puluhan jenazah tergeletak di luar kamar jenazah di wilayah Teheran selatan. Jenazah terlihat dibungkus kantong hitam, sementara sejumlah orang yang diduga keluarga korban tampak mencari kerabat mereka di antara deretan mayat.
Pemerintah Iran Tetapkan Hari Berkabung
Di tengah tekanan domestik dan sorotan internasional, pemerintah Iran menetapkan tiga hari berkabung nasional. Otoritas menyebut masa berkabung itu ditujukan bagi para “syuhada”, termasuk personel keamanan yang tewas dalam kerusuhan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mengajak warga mengikuti “pawai perlawanan nasional” pada Senin. Pemerintah menyatakan pawai tersebut bertujuan mengecam kekerasan dan menjaga stabilitas nasional.
Namun, seruan tersebut justru menuai kritik dari kelompok HAM internasional yang menilai pemerintah Iran berupaya mengalihkan perhatian dari tuntutan rakyat.
Protes Berubah Jadi Tantangan Politik Serius
Pemicu aksi demonstrasi di Iran awalnya adalah kemarahan publik terhadap kenaikan biaya hidup dan memburuknya kondisi ekonomi. Namun, protes tersebut berkembang menjadi tantangan terbuka terhadap sistem teokrasi yang telah berkuasa sejak revolusi 1979.
Kelompok HAM menilai pola penindakan aparat menunjukkan eskalasi signifikan, dari pengendalian massa menjadi penggunaan kekerasan mematikan secara sistematis.
Situasi ini disebut sebagai salah satu krisis politik paling serius yang dihadapi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (86), terutama setelah perang 12 hari antara Israel dan Republik Islam Iran pada Juni lalu yang didukung Amerika Serikat.
Reza Pahlavi Serukan Transisi Demokrasi
Di tengah krisis tersebut, Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran yang kini tinggal di Amerika Serikat, menyatakan kesiapannya kembali ke Iran untuk memimpin transisi demokrasi.
“Saya sudah menyiapkannya,” kata Reza Pahlavi dalam wawancara dengan Fox News.
Ia juga menyerukan aparat keamanan dan pegawai pemerintah untuk berpihak pada demonstran.
“Pegawai negara dan anggota aparat keamanan memiliki pilihan: berdiri bersama rakyat atau bersekutu dengan pembunuh rakyat,” tulisnya di media sosial.
Reza Pahlavi turut meminta demonstran mengganti bendera Iran di luar kedutaan dengan bendera nasional pra-revolusi, yang kini menjadi simbol utama solidaritas global terhadap demonstran Iran.
Klaim Negosiasi Jadi Sorotan Global
Klaim Trump bahwa Iran ingin bernegosiasi langsung memicu spekulasi luas mengenai arah kebijakan Teheran di tengah tekanan domestik dan internasional. Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait pernyataan Trump tersebut.
Pengamat menilai, jika klaim tersebut benar, maka keinginan bernegosiasi bisa menjadi upaya Teheran meredam tekanan global di tengah situasi internal yang semakin tidak terkendali.
Namun, dengan eskalasi kekerasan yang terus terjadi, masa depan dialog diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat masih diliputi ketidakpastian.
(tim redaksi)
