Iran Balik Tantang Trump soal Selat Hormuz, Tegaskan Tak Akan Tunduk
SOROTMATA.ID – Ancaman Donald Trump untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat (AS) justru memicu perlawanan keras dari Iran.
Teheran menegaskan tidak akan menyerahkan kendali atas jalur perairan strategis tersebut dan memperingatkan Washington bahwa kekuatan militer maupun pernyataan politik tidak cukup untuk merebutnya.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyampaikan sikap tersebut melalui media sosial X pada Jumat (14/8/2026).
Ia merespons pernyataan Trump yang sebelumnya mengklaim AS akan menguasai Selat Hormuz setelah memenangkan perang melawan Iran.
“Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya dengan sebuah cuitan, dengan kapal induk, dengan perintah, atau dengan pidato kampanye,” tegas Gharibabadi dalam pernyataannya.
Iran Tegaskan Klaim atas Selat Hormuz
Gharibabadi menyatakan Teheran tidak akan terintimidasi oleh pengerahan kekuatan AS. Ia bahkan mendesak Washington menerima apa yang disebut Iran sebagai kekalahan strategis dalam konflik tersebut.
“Iran tidak takut pada ancaman dan tidak bisa diintimidasi oleh aksi unjuk kekuatan,” ucap Gharibabadi.
Ia kemudian menegaskan klaim Iran atas Selat Hormuz secara langsung.
“Selat Hormuz adalah milik Iran, saat ini milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran,” tegas Wamenlu Iran tersebut.
Menurut Gharibabadi, Iran juga tetap memegang kendali atas akses pelayaran di jalur strategis itu. Ia memperingatkan Trump bahwa Teheran akan mempertahankan kebijakan blokadenya selama Washington belum mengubah sikap.
“Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka atas perintah Iran, dan selama Anda tidak menerima kenyataan soal kekalahan Anda dan meninggalkan fantasi Anda, Iran akan terus memberlakukan blokade (di Selat Hormuz),” kata Gharibabadi.
Trump Klaim AS Akan Kuasai Selat
Pernyataan keras Iran muncul beberapa jam setelah Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Teheran. Saat berbicara dalam kunjungan ke Akademi Kepolisian Nassau County di Garden City, New York, Jumat (14/8), Trump mengatakan Angkatan Laut AS sedang memberlakukan blokade total terhadap Selat Hormuz.
Trump juga mengungkapkan rencana untuk mengubah status jalur perairan tersebut setelah perang berakhir.
“Setelah kita selesai mengalahkan Iran, yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” tegas Trump.
Presiden AS itu juga mengatakan tidak akan membiarkan kapal melintasi Selat Hormuz tanpa izin Washington.
“Tidak ada kapal yang bisa melintasi kecuali jika kita mengizinkannya,” ujar Trump.
Jalur Vital Perdagangan Energi Dunia
Perseteruan mengenai Selat Hormuz memiliki konsekuensi jauh melampaui hubungan Iran dan AS. Jalur perairan yang berada di antara Iran dan Oman itu menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar dunia.
Karena itu, setiap pembatasan pelayaran di Selat Hormuz dapat mengganggu rantai pasok energi global. Ketegangan antara Washington dan Teheran juga berpotensi meningkatkan kekhawatiran negara-negara pengimpor energi terhadap keamanan pasokan minyak.
Iran dan AS kini menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Teheran ingin mempertahankan kendali atas pelayaran di kawasan tersebut, sedangkan Washington menuntut kebebasan navigasi.
Upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur strategis itu juga belum menghasilkan kesepakatan konkret. Dengan kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing, Selat Hormuz berpotensi terus menjadi salah satu titik paling sensitif dalam perang Iran-AS.
Ancaman Trump untuk menjadikan selat tersebut wilayah AS dan penolakan keras Iran menunjukkan bahwa perselisihan tidak lagi hanya berkaitan dengan operasi militer. Status, kendali, dan akses terhadap Selat Hormuz kini menjadi bagian penting dari pertarungan politik kedua negara.
(*)
