Iran Kukuh Tak Mau Buka Selat Hormuz Sampai Amerika Serikat Penuhi Tuntutan Teheran
SOROTMATA.ID – Harapan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat kembali menghadapi jalan terjal.
Iran menegaskan jalur strategis tersebut tetap tertutup selama Amerika Serikat belum mengubah sikap dan menerima tuntutan Teheran untuk mengakhiri perang. Pernyataan itu muncul ketika pembicaraan mengenai pengaturan jalur transit melalui Oman masih berlangsung.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan sikap tersebut. Ia menegaskan Iran telah menyampaikan persyaratannya kepada Washington melalui para mediator.
“Selama Amerika tidak mengubah perilakunya dan tidak menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka,” tegas Rezaei, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Iran Minta Perang Berakhir di Kawasan
Rezaei menyebut Iran menginginkan Amerika Serikat mengakhiri perang dan menyelesaikan sejumlah persoalan yang berkaitan dengan aset Iran. Teheran juga memasukkan konflik di Lebanon dan Gaza dalam tuntutannya.
“Amerika harus mengakhiri perang, membayar aset Iran yang dibekukan, perang harus berakhir di seluruh wilayah, termasuk di Lebanon dan Gaza,” katanya, dilansir Al Arabiya.
Iran juga membedakan pembicaraan dengan Oman mengenai rute transit dari keputusan membuka Selat Hormuz secara penuh.
“Jika kesepakatan tercapai antara Iran dan Oman mengenai rute transit melalui Selat Hormuz, kesepakatan ini akan menjadi masalah terpisah dari penutupan Selat Hormuz,” imbuhnya.
Pernyataan Rezaei memperlihatkan Teheran masih menjadikan akses Selat Hormuz sebagai bagian penting dalam negosiasi dengan Washington.
Trump Balik Tuntut Kompensasi
Di tengah kebuntuan tersebut, Presiden AS Donald Trump juga menaikkan tuntutan terhadap Iran. Trump meminta Teheran membayar kompensasi atas kerusakan dan korban yang dikaitkan dengan konflik selama bertahun-tahun.
“Kita akan meminta uang ganti rugi atas kerusakan yang telah mereka lakukan selama 50 tahun,” kata Trump.
Saling tuntut antara Washington dan Teheran membuat peluang tercapainya kesepakatan pembukaan Selat Hormuz semakin sulit. Kondisi itu juga meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pelayaran dan pasar energi global.
(*)
