POLITIK

NasDem Buka Ruang Bahas Pemisahan Pileg dan Pilpres pada Pemilu

SOROTMATA.ID – Partai NasDem membuka ruang pembahasan mengenai wacana pemisahan pemilihan legislatif (Pileg) dan pemilihan presiden (Pilpres) pada Pemilu 2029.

NasDem menilai gagasan tersebut menarik untuk dibicarakan, terutama setelah pengalaman penyelenggaraan pemilu secara serentak dinilai memberikan beban besar bagi partai politik.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai NasDem Hermawi Taslim mengatakan partainya siap terlibat dalam pembahasan mengenai kemungkinan perubahan format penyelenggaraan pemilu tersebut.

“Ide pemisahan pilpres dan pileg ini menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. NasDem siap untuk ikut berembuk untuk membicarakannya,” kata Hermawi saat dihubungi, pada Jumat (25/9).

Pemilu Serentak Dinilai Menguras Energi Partai

Hermawi menilai pelaksanaan pemilu secara serentak memberikan tantangan tersendiri bagi partai politik. Partai harus menjalankan proses kaderisasi dan rekrutmen dalam skala besar sekaligus menghadapi berbagai agenda politik dalam waktu yang berdekatan.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat pengurus partai di berbagai tingkatan harus membagi konsentrasi untuk menghadapi banyak kepentingan pemilihan dalam waktu bersamaan.

“Memang terasa sangat memecah konsentrasi dan sangat menguras energi, sangat melelahkan untuk para pengurus partai di semua tingkat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai desain Pemilu 2029 tidak hanya berkaitan dengan teknis pencoblosan. Partai politik juga perlu mempertimbangkan dampak penyelenggaraan berbagai pemilihan terhadap organisasi, kaderisasi, rekrutmen, hingga konsolidasi di tingkat daerah.

Dengan memisahkan jadwal pemilihan, partai dapat menghadapi setiap kontestasi dalam tahapan yang berbeda. Namun, perubahan tersebut tentu membutuhkan pembahasan lebih lanjut karena menyangkut desain sistem pemilu secara keseluruhan.

NasDem Soroti Dampak terhadap Pemberitaan Media

Selain beban partai, Hermawi juga menyoroti dampak pemilu serentak terhadap kerja media massa. Banyaknya kontestasi yang berlangsung dalam satu waktu membuat media harus membagi perhatian untuk meliput berbagai kandidat, partai, dan isu politik secara bersamaan.

BACA JUGA :  Soal Pernyataan Jokowi Pilpres 2024 Jatah Prabowo, Surya Paloh Tunggu Diucapkan ke Anies Baswedan

Menurut Hermawi, kondisi itu berpotensi membuat pemberitaan tidak menggali setiap isu secara mendalam.

“Di samping itu pemberitaan media juga menjadi tidak dalam karena harus memberitahukan semuanya dalam satu waktu yang bersamaan,” ucapnya.

Ia melihat pemisahan pemilu dapat menjadi salah satu gagasan yang perlu dikaji untuk melihat apakah penyelenggaraan setiap kontestasi dapat berlangsung dengan perhatian publik dan pemberitaan yang lebih terfokus.

Golkar Lebih Dulu Dorong Pemisahan Pemilu

Wacana pemisahan Pileg, Pilpres, dan Pilkada sebelumnya disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus anggota Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia.

Doli mengatakan Golkar sejak awal mengusulkan agar tiga jenis pemilu tersebut tidak diselenggarakan secara bersamaan. Menurut dia, masing-masing pemilihan memiliki karakter dan tujuan yang berbeda sehingga masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk mengikuti setiap kontestasi secara lebih fokus.

“Kami memang sejak awal mengusulkan agar ketiga jenis pemilu yang kita miliki, pileg, pilpres, dan pilkada sebaiknya diselenggarakan terpisah, tidak ada yang disatukan,” kata Doli dalam keterangannya, Selasa (22/9).

Doli menyampaikan tiga alasan utama di balik usulan tersebut. Pertama, pemisahan pemilu dinilai dapat membantu masyarakat berkonsentrasi menentukan pilihan pada setiap jenis pemilihan.

“Kita ingin agar setiap jenis Pemilu bisa diikuti oleh masyarakat secara fokus terhadap masing-masing jenis pemilihan,” katanya.

Kedua, Doli mempersoalkan penggunaan syarat perolehan suara Pileg lima tahun sebelumnya dalam pencalonan Pilpres. Menurut dia, dinamika politik selama lima tahun dapat mengubah sikap partai dalam menentukan pasangan calon.

“Yang akhirnya bisa membuat tidak relevan antara aspirasi dukungan kepada partai politik dan presiden-wakil presiden pada saat pemilu itu dilangsungkan,” kata Doli.

Ketiga, Doli menilai pemisahan jadwal Pileg dan Pilpres dapat meringankan beban penyelenggara pemilu.

BACA JUGA :  Soal Anies Bakal Jadi Tersangka, Demokrat Harap KPK Profesional dan Berlaku Adil

(*)

1.012 Tayangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *