Honda Tak Mau Jadi Penonton, Siapkan Strategi Lawan Gempuran Mobil Listrik China
SOROTMATA.ID – Di tengah derasnya arus mobil listrik asal China yang mulai mendominasi pasar dunia, Honda Motor Company (HMC) menegaskan tak akan diam dan hanya menjadi penonton.
Chief Executive Officer (CEO) Honda, Toshihiro Mibe, memastikan perusahaannya sedang mempercepat langkah transformasi teknologi, bukan hanya di kendaraan listrik (EV), tetapi juga di sektor energi hidrogen (fuel cell).
“Honda terus mengembangkan teknologi baterai dan kendaraan listrik untuk menutup kesenjangan dengan produsen asal Tiongkok,” ujar Mibe dalam forum diskusi bersama jurnalis Asia Tenggara di Minato, Tokyo, Jepang, baru-baru ini.
Strategi Menyikapi Gempuran EV China
Dalam dua tahun terakhir, pabrikan otomotif asal Tiongkok seperti BYD, Nio, dan Geely mencatat lonjakan ekspor kendaraan listrik ke pasar Asia, Eropa, hingga Amerika Latin. Mibe mengakui, langkah cepat produsen China memberi tekanan besar pada merek Jepang, termasuk Honda.
Namun, Honda, kata dia, memilih jalan berbeda. Alih-alih mengikuti pola cepat tanpa riset mendalam, Honda berfokus pada penguatan riset dan rekayasa teknologi energi bersih jangka panjang.
“Kami melanjutkan penelitian panjang kami di bidang fuel cell, dengan penerapan yang disesuaikan terhadap perkembangan infrastruktur dan biaya hidrogen di setiap wilayah,” jelasnya.
Pendekatan ini, lanjut Mibe, menjadi ciri khas Honda dalam menjaga keberlanjutan. Ia menilai, investasi di kendaraan listrik semata tidak cukup untuk menghadapi perubahan struktur energi global. Di masa depan, teknologi hidrogen akan menjadi pelengkap penting dalam transisi menuju netralitas karbon.
Percepatan Transisi Energi Honda
Mibe juga menepis anggapan bahwa Honda tertinggal dalam perlombaan kendaraan listrik. Ia menegaskan, perusahaan justru mempercepat proses elektrifikasi setelah menyesuaikan strategi penjualan global pada Mei 2024 lalu.
“Pada Mei 2024, Honda menyesuaikan komposisi penjualan jangka menengah dengan memperbesar porsi HEV (Hybrid Electric Vehicle) hingga 2030, menyesuaikan dengan melambatnya pertumbuhan pasar EV global,” ujar Mibe.
“Namun, pengembangan EV justru terus dipercepat karena teknologi ini tetap menjadi pilar utama dalam upaya Honda menuju carbon neutrality.”
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Honda tengah melakukan diversifikasi strategi, tidak meninggalkan kendaraan listrik murni, tetapi juga memperkuat hybrid dan riset energi alternatif lainnya agar tidak terjebak dalam ketergantungan pada satu teknologi.
Komitmen di Japan Mobility Show 2025
Keseriusan Honda terhadap kendaraan listrik terlihat jelas dalam Japan Mobility Show 2025, pameran otomotif terbesar di Jepang yang menampilkan arah masa depan teknologi kendaraan global.
Di ajang tersebut, Honda menghadirkan berbagai model konsep futuristik, seperti:
- Honda 0 Alpha, sedan listrik bergaya aerodinamis;
- Honda 0 SUV, mobil listrik berorientasi keluarga dengan jarak tempuh panjang;
- Honda 0 Saloon, kendaraan premium yang menjadi simbol transisi ke era mobilitas baru;
- serta Honda Super One, motor listrik performa tinggi hasil pengembangan lanjutan dari teknologi MotoGP.
Model-model tersebut menggambarkan filosofi desain baru Honda: “0 Series”, yang berarti “nol emisi, nol batas.”
Adaptif terhadap Dinamika Pasar
Mibe menegaskan, strategi global Honda tidak bisa dipukul rata untuk semua wilayah. Di pasar Eropa dan Amerika, Honda akan memperkuat segmen EV murni, sedangkan di Asia—terutama Asia Tenggara strategi hybrid akan tetap dominan sembari mempersiapkan infrastruktur pendukung listrik dan hidrogen.
“Kami menyesuaikan penerapan teknologi dengan kondisi pasar dan kesiapan infrastruktur di masing-masing negara,” ujarnya.
Langkah ini, menurut pengamat industri otomotif Jepang, dinilai realistis. Pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih dalam tahap awal adopsi EV, dengan tantangan harga baterai, ketersediaan charging station, dan kebijakan fiskal yang belum merata.
Visi Jangka Panjang
Meski menghadapi tekanan kompetitif dari China, Honda tidak berencana mengikuti pola ekspansi agresif dengan menurunkan harga besar-besaran. Mibe menegaskan, Honda akan tetap memegang prinsip “engineering-first” mengutamakan kualitas, keamanan, dan keberlanjutan jangka panjang.
Mibe menegaskan, Honda tak hanya mengejar kecepatan dalam transisi kendaraan listrik, tetapi juga kesiapan menghadapi perubahan energi global melalui riset berkelanjutan
(Redaksi)
