NASIONAL

BGN Hentikan Sementara Penyaluran Program MBG Saat Libur Sekolah

SOROTMATA.ID Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya evaluasi dan pembenahan sistem pelaksanaan program di lapangan.

Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menjelaskan bahwa penghentian sementara tersebut dilakukan untuk memberi ruang bagi audit menyeluruh terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sekaligus memperbaiki mekanisme distribusi agar lebih efektif dan tepat sasaran.

“Iya, setop (penyaluran MBG). Untuk yang semasa libur sekolah, sambil kita membenahi,” ujar Agustina di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (15/6).

Audit dapur SPPG menjadi fokus utama pembenahan

BGN memprioritaskan audit terhadap seluruh dapur SPPG yang berperan dalam penyediaan makanan MBG. Lembaga tersebut menilai kualitas dapur menentukan kualitas makanan yang diterima para penerima manfaat, sehingga audit menjadi langkah penting dalam perbaikan sistem.

Agustina menjelaskan bahwa BGN memeriksa seluruh proses pengolahan makanan, mulai dari standar kebersihan hingga alur produksi di dapur. Ia menegaskan bahwa kualitas makanan tidak dapat tercapai jika dapur tidak memenuhi standar operasional yang benar.

“Nanti kami akan audit semua dapur, sehingga ketika anak-anak sudah masuk sekolah, kondisi di lapangan sudah lebih rapi,” kata Agustina

Ia juga menyoroti pentingnya penerapan standar pengolahan makanan yang tepat. Menurutnya, proses memasak yang tidak sesuai kaidah dapat berdampak langsung pada kualitas gizi yang diterima anak-anak.

“Karena tidak masuk akal ketika kita mengharapkan menghasilkan kualitas yang baik ketika dapurnya tidak sesuai dengan kaidah bagaimana flow of cooking yang baik,”  ujar Agustina

Pemerintah perketat data dan sasaran penerima manfaat

BGN juga mempercepat perbaikan data penerima manfaat MBG. Lembaga ini mengakui bahwa validasi data menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan program sehingga membutuhkan pembaruan sistem secara menyeluruh.

Untuk memperkuat akurasi data, BGN memperluas koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga yang memiliki basis data sosial. Langkah ini bertujuan agar penyaluran bantuan benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan intervensi gizi.

Selain itu, pemerintah melakukan penajaman sasaran atau refocusing penerima manfaat. BGN mempertimbangkan pengurangan sekitar 8 juta penerima manfaat dalam skema penyesuaian tersebut, termasuk kemungkinan mengecualikan siswa SMA dari keluarga mampu.

“Contoh misalnya SMA mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA-SMA yang uang sakunya anak-anaknya sudah Rp100 ribu sampai Rp200 ribu, yang high class begitu, itu tidak perlu lagi,” jelasnya.

Anggaran program ikut dievaluasi

BGN juga mengevaluasi kembali kebutuhan anggaran program MBG yang saat ini berada pada kisaran ratusan triliun rupiah. Hasil audit dan penajaman sasaran berpotensi mengubah total kebutuhan anggaran program ke depan.

Agustina menyebut bahwa angka anggaran masih bersifat dinamis dan dapat menyesuaikan hasil evaluasi yang sedang berjalan.

“Rp268 (triliun) kan (pagu anggaran) yang terakhir, ya kemungkinan besar pasti akan berkurang (kebutuhan anggaran MBG),” ujarnya.

BGN menegaskan bahwa penghentian sementara MBG tidak menghentikan program secara permanen. Lembaga ini justru memanfaatkan masa libur sekolah untuk memperbaiki kualitas dapur, memperkuat data penerima, serta memastikan bantuan gizi tersalurkan lebih tepat sasaran saat program kembali berjalan.

(*)

1.145 Tayangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *