Trump Serang Balik Pemimpin Iran Usai Disebut Putus Asa dalam Negosiasi
SOROTMATA.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan respons keras terhadap pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Hosseini Khamenei yang menyebut dirinya berada dalam kondisi putus asa saat menjalankan negosiasi dengan Teheran
Trump menegaskan bahwa Iran justru berada dalam kondisi terdesak dan membutuhkan kesepakatan tersebut.
Hal ini ia sampaikan lewat unggahan di platform Truth Social pada Jumat (19/6).
Trump menyampaikan respons itu setelah Mojtaba mengkritik nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran.
Dalam pernyataannya sehari sebelumnya, Mojtaba menilai pemerintahan Trump memilih menempuh jalur kesepakatan karena sudah kehabisan pilihan dalam menghadapi Iran.
Menanggapi tuduhan tersebut, Trump secara tegas menolak anggapan bahwa Washington berada dalam posisi lemah selama proses perundingan berlangsung.
“Kami tidak berunding karena putus asa. Justru Iran yang putus asa. Mereka SUDAH TAMAT,” tulis Trump di Truth Social, Jumat (19/6).
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Trump ingin menegaskan posisi Amerika Serikat sebagai pihak yang tetap memegang kendali dalam proses negosiasi dengan Iran.
MoU Jadi Langkah Awal Menuju Perjanjian Damai
Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang menjadi fondasi awal menuju perjanjian damai antara kedua negara pada Rabu (17/6). Kesepakatan tersebut memuat 14 poin utama yang akan menjadi dasar pembahasan lebih lanjut dalam tahap negosiasi berikutnya.
Salah satu poin penting dalam MoU itu mencakup komitmen Amerika Serikat untuk mencairkan dana milik Iran yang selama ini dibekukan. Selain itu, Washington juga menyatakan kesediaannya untuk mencabut sejumlah sanksi yang selama bertahun-tahun membatasi aktivitas ekonomi Teheran.
Kesepakatan tersebut juga memuat klausul mengenai kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama konflik yang terjadi pada 28 Februari lalu. Langkah ini dipandang sebagai upaya membangun kepercayaan antara kedua negara yang selama beberapa dekade berada dalam hubungan yang penuh ketegangan.
Meski demikian, sejumlah pihak masih menunggu kejelasan mengenai implementasi berbagai poin yang tercantum dalam MoU tersebut. Negosiasi teknis lanjutan akan menentukan bentuk final dari kesepakatan yang akan disepakati kedua negara.
Trump Tegaskan Iran Tidak Akan Menerima Dana
Dalam unggahan yang sama, Trump kembali menyoroti isu dana yang menjadi bagian dari pembahasan kesepakatan dengan Iran. Ia menegaskan bahwa proses perundingan masih akan memasuki tahap teknis selama 60 hari sebelum kedua pihak mengambil keputusan final.
Trump juga menyampaikan bahwa Iran tidak akan langsung memperoleh dana sebagaimana yang banyak dibicarakan setelah penandatanganan MoU.
“Kita akan jalankan dulu periode (perundingan teknis) 60 hari yang sudah ditetapkan. Mereka tidak akan dapat uang, bahkan sepuluh sen pun tidak!” pungkas Trump.
Sebelumnya, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan persetujuannya terhadap kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang telah ditandatangani oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.
Meskipun menyetujui kesepakatan damai, Mojtaba tetap melontarkan kritik kepada Presiden AS Donald Trump. Ia menilai Trump berada dalam posisi yang sangat membutuhkan tercapainya kesepakatan sehingga menggunakan berbagai cara dan instrumen diplomatik untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap Iran yang tetap berhati-hati dalam membangun hubungan dengan Washington meskipun kedua negara telah mencapai kesepakatan penting. Mojtaba menegaskan bahwa persetujuannya tidak berarti Iran menerima seluruh pandangan atau tuntutan yang diajukan oleh pihak AS.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Iran tetap berkomitmen mempertahankan kepentingan nasional dan tidak akan mengorbankan prinsip-prinsip yang selama ini menjadi dasar kebijakan luar negeri negara tersebut.
Alasan Mojtaba Menyetujui Kesepakatan
Mojtaba mengungkapkan bahwa dirinya semula memiliki pandangan berbeda mengenai nota kesepahaman yang disepakati kedua negara. Namun, ia memutuskan memberikan persetujuan setelah menerima komitmen langsung dari Presiden Pezeshkian dan anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
“Pada prinsipnya, saya memiliki pandangan yang berbeda (mengenai nota kesepahaman), tetapi saya memberikan izin saya karena komitmen yang diberikan oleh Presiden (Iran) yang terhormat, sebagai ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, atas nama dirinya sendiri dan anggota lainnya untuk melindungi hak-hak bangsa Iran dan Front Perlawanan,” ucap Mojtaba.
Menurutnya, komitmen tersebut menjadi faktor utama yang mendorongnya mendukung proses perdamaian dan membuka jalan bagi dimulainya tahap baru hubungan Iran dan AS.
(*)
