BERITAHUKRIM

Dosen Polnes Terduga Pelaku Pelecehan Seksual Resmi Dinonaktifkan Pasca Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa

SOROTMATA.ID  — Dosen Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) yang diduga melakukan tindak pelecehan seksual kepada mahasiswinya kini dinonaktifkan.

Penonaktifan ini dilakukan setelah aksi unjuk rasa yang digelar mahasiswa Polnes dua hari lalu.

Tindakan tegas ini dilakukan pihak kampus sebagai bentuk keseriusan, utamanya menangani aduan mahasiswa terkait tindak amoral dilingkup pendidikan.

Dijelaskan Wakil Direktur II Polnes, Karyo Budi Utomo kalau nonaktif itu dilakukan dengan cara mencopot jabatan sang dosen dari posisi Ketua Program Studi Teknologi Informasi.

“Surat penonaktifan ditandatangani pada hari yang sama dengan aksi mahasiswa,” ujar Karyo, Rabu (17/9/2025).

Dengan pencopotan jabatan itu, sang dosen dipastikan tidak lagi bisa melakukan kegiatan pengajaran di kampus.

“Tidak boleh mengajar, membimbing, menguji, ataupun menjadi wali mahasiswa. Dia hanya menjalankan tugas administratif sebagai pejabat pelaksana,”ucapnya.

Status baru ini akan berlangsung selama 12 bulan dan dapat diperpanjang setelah evaluasi. Penonaktifan dilakukan sembari menunggu arahan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Di sisi lain, kampus menugaskan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKPT) untuk melakukan pendampingan terhadap para korban. Menurut Karyo, laporan yang diterima pihak kampus berasal dari lebih dari satu korban.

“Saat ini tim satgas sedang mengupayakan pendampingan psikologis bagi korban dan juga pelaku, karena keduanya berhak mendapat perlakuan yang sesuai,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan kekerasan seksual menyeruak diruang pendidikan Samarinda. Kali ini, kabar tak mengenakan itu tersiar dari lingkungan Politeknik Negeri Samarinda. Kabar itu dengan cepat direspon dengan gelombang unjuk rasa dari mahasiswa, tepatnya pada Senin (15/9/2025).

Aksi ini dilangsungkan sebagai bentuk desakan terhadap pihak kampus agar bersikap tegas dan transparan dalam menangani kasus dugaan kekerasan seksual yang mencuat, utamanya yang terjadi di lingkungan internal kampus.

Puluhan mahasiswa melakukan aksi protes di depan Gedung Direktorat Polnes, menuntut kejelasan proses penanganan kasus dan perlindungan yang lebih kuat bagi korban. Mereka menilai respons kampus selama ini terlalu lambat dan minim transparansi. Apalagi, dugaan kasus ini menyeret nama tenaga didik alias dosen kepada mahasiswinya.

(tim redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *