Atasi Kasus Narkotika di Kota Tepian, Dewan Samarinda Dorog Peran Keluarga
SOROTMATA.ID – Masih tingginya kasus peredaran narkotika di Kota Tepian Kalimantan Timur (Kaltim) tak lepas dari sorotan DPRD Samarinda.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Maswedi menyampaikan, salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan dalam penyalahgunaan narkoba di Samarinda adalah karena sakit hati.
Hal ini disampaikan Maswedi usai Pansus IV DPRD Samarinda hearing dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Samarinda dalam rapat rancangan peraturan daerah (Raperda) Ketahanan Keluarga untuk memaksimalkan fungsi keluarga dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di Kota Tepian.
Maswedi mengatakan, kurang baiknya komunikasi dengan keluarga atau dengan orang tua menyebabkan orang ingin mencoba narkoba untuk mengatasi stresnya.
“Sakit hati ini bisa jadi karena persoalan keluarga terhadap istri atau anak, bisa juga karena sering dimarahi orang tua, sehingga meninggalkan rumah dan untuk menghilangkan stress mengkonsumsi barang itu,” kata Maswedi Rabu (12/04)
Dia mendorong untuk keluarga penyintas mampu membantu meningkatkan semangat penyintas dalam berproses terlebih lagi terhadap penyintas yang masih di bawah umur.
“Terpenting adalah pasca rehab ada hasil yang baik, tidak hanya rehab mandiri tetapi juga rehab keluarga. Tentunya keluarga harus bisa menerima ketika dia kembali ke masyarakat dan keluarga jangan sampai dikecilkan,” tutupnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, dalam penanganan kasus narkoba yang terpenting adalah rehabilitasi untuk memperbaiki pola yang lebih baik dan menyadarkan atas kesalahan yang diperbuat.
“Rehabilitasi pasti ada, karena jika dihukum khawatir tidak menyelesaikan masalah,” ucapnya.
Dalam menangani kasus narkotika di Kota Tepian, Maswedi berharap BNN Samarinda mampu menyiapkan langkah pasca rehabilitasi terhadap penyintas guna memberikan kepercayaan diri ketika kembali ke masyarakat agar dapat menjalankan aktivitas sosial dengan baik.
“Jangan sampai karena tidak ada kepercayaan dirinya sampai tidak bisa membangun rumah tangga lagi, akhirnya rumah tangga tidak sejahtera sehingga ketahanan keluarga itu tidak bisa tercapai,’’ pungkasnya.
(Advetorial)
