Diplomasi Damai Amerika Serikat–Iran Berlanjut di Pakistan
SOROTMATA.ID – Diplomasi damai Amrika Serikat dengan Iran akan berlanjut di Islamabad, Pakistan pada Kamis (16/4).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump awalnya sempat menyebut Eropa sebagai lokasi potensial untuk pertemuan lanjutan. Namun, ia kemudian mengubah pernyataannya dan menegaskan bahwa Pakistan tetap menjadi lokasi yang lebih mungkin.
Pergeseran ini menunjukkan adanya dinamika cepat dalam pengambilan keputusan terkait diplomasi tingkat tinggi tersebut.
“Anda sebaiknya tetap di sana, sungguh, karena sesuatu mungkin terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih cenderung untuk pergi ke sana,” ujar Trump kepada seorang reporter New York Post yang sedang bertugas di Islamabad, seperti dilansir CNN, Rabu (15/4/2026).
Pakistan Dinilai Berperan Penting
Trump juga menyoroti peran penting Pakistan dalam memfasilitasi perundingan ini. Ia secara khusus memuji Marsekal Lapangan Pakistan, Asim Munir, atas kontribusinya dalam proses diplomasi tersebut.
“Itu lebih mungkin terjadi, Anda tahu kenapa? Karena sang marsekal lapangan melakukan pekerjaan yang luar biasa,” kata Trump.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Pakistan tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga memainkan peran strategis dalam menjembatani komunikasi antara kedua negara yang telah lama berseteru tersebut.
Alternatif Lokasi dan Sikap Trump
Selain Islamabad, Jenewa sempat muncul sebagai alternatif lokasi perundingan. Namun, Trump tampak meremehkan opsi tersebut dan mempertanyakan relevansinya dalam konteks negosiasi ini.
“Mengapa kita harus pergi ke negara yang tidak ada hubungannya dengan hal ini?” ujarnya.
Sikap ini mencerminkan preferensi Trump terhadap lokasi yang menurutnya memiliki keterlibatan langsung atau kontribusi nyata dalam proses negosiasi.
Belum Ada Kesepakatan di Putaran Awal
Sebelumnya, putaran pertama perundingan telah digelar pada akhir pekan lalu di Pakistan. Wakil Presiden AS, JD Vance, memimpin delegasi Amerika Serikat dalam pertemuan tersebut. Meski kedua pihak telah berdialog, mereka belum mencapai kesepakatan konkret.
Ketidakberhasilan ini menunjukkan bahwa masih terdapat perbedaan signifikan antara posisi AS dan Iran, terutama terkait isu utama yang menjadi fokus pembahasan.
Perbedaan Pandangan soal Program Nuklir
Isu program nuklir Iran tetap menjadi titik krusial dalam negosiasi. Trump menegaskan sikap tegasnya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam kondisi apa pun.
“Saya telah mengatakan bahwa mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
Ia juga menolak gagasan pembatasan pengayaan uranium selama 20 tahun yang dilaporkan sempat diusulkan oleh negosiator AS. Menurutnya, batas waktu tersebut tidak cukup menjamin keamanan jangka panjang.
“Jadi, saya tidak suka (jangka waktu) 20 tahun itu,” tegasnya.
Dengan pernyataan ini, Trump menunjukkan bahwa pendekatan AS dalam negosiasi masih dapat berubah dan belum sepenuhnya solid. Perbedaan pandangan internal serta kompleksitas hubungan dengan Iran membuat proses perdamaian ini masih penuh tantangan.
(*)
