NASIONAL

Alvian Wardhana Masuk 3 Besar DPD RI Awards 2026 Berkat Literasi Anak Banua

SOROTMATA.ID – Alvian Wardhana masuk tiga besar DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah berkat kiprahnya mengembangkan Literasi Anak Banua. Program pendidikan yang ia rintis sejak 2018 itu menjangkau anak-anak dan pemuda adat di Kalimantan Selatan, terutama mereka yang tinggal di desa terpencil.

Perjalanan Alvian berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan literasi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ia melihat keterbatasan akses pendidikan, kurikulum yang kurang sesuai dengan kehidupan masyarakat adat, serta fasilitas belajar yang belum memadai sebagai tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Kini, Literasi Anak Banua menjangkau 40 desa terpencil di lima kabupaten di Kalimantan Selatan. Program tersebut menjalankan bimbingan belajar gratis, penguatan literasi dan numerasi, pendidikan iklim, hingga pemberdayaan pemuda adat.

Pencapaian Alvian masuk tiga besar menempatkan inisiatif pendidikan berbasis masyarakat tersebut dalam penilaian penghargaan nasional yang diselenggarakan DPD RI.

Alvian Wardhana dan perjalanan Literasi Anak Banua

Alvian Wardhana, pemuda asal Kabupaten Tanah Laut, mendirikan gerakan pendidikan tersebut pada 2018 dengan nama Rumah Baca Kami. Ia kemudian mengembangkan inisiatif itu menjadi Literasi Anak Banua untuk memperluas jangkauan dan ragam program pendidikan bagi anak-anak adat.

Dalam pengamatannya, persoalan buta huruf tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca. Anak-anak juga menghadapi tantangan berupa materi pembelajaran yang kurang kontekstual, keterbatasan tenaga pendidik, dan sulitnya menjangkau fasilitas pendidikan.

Dampaknya dapat meluas hingga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Bahan informasi mengenai program ini menyoroti pengalaman warga lanjut usia yang tidak mampu membaca dokumen, sehingga rentan tertipu ketika menandatangani surat pelepasan tanah leluhur kepada perusahaan swasta.

Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya kemampuan membaca sebagai bekal untuk memahami dokumen dan melindungi kepentingan masyarakat. Karena itu, Literasi Anak Banua tidak hanya berfokus pada pembelajaran di kelas, tetapi juga mengembangkan pendidikan yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari.

Literasi Anak Banua menjangkau 40 desa di lima kabupaten

Untuk memperluas layanan pendidikan, Literasi Anak Banua mengandalkan dukungan relawan dan anggota komunitas. Organisasi ini memiliki 72 relawan, 24 anggota tetap, serta 18 anggota tim digital yang membantu menjalankan berbagai kegiatan.

Program utamanya mencakup bimbingan belajar gratis, penguatan kemampuan membaca dan berhitung, serta pembangunan perpustakaan mini. Selain itu, komunitas ini mengembangkan pendidikan iklim agar anak-anak dan pemuda adat memahami persoalan lingkungan di sekitar mereka.

Data program yang tercantum dalam bahan informasi menyebutkan lebih dari 2.000 anak telah menerima bimbingan belajar secara langsung. Sementara itu, berbagai kegiatan literasi dan pendidikan lain menjangkau lebih dari 10 ribu anak adat di lima kabupaten melalui sejumlah proyek komunitas.

Cakupan tersebut memperlihatkan bahwa Literasi Anak Banua tidak hanya mengandalkan kegiatan belajar rutin. Mereka juga menggunakan pendekatan berbasis komunitas untuk menjangkau anak-anak yang menghadapi hambatan geografis dan keterbatasan fasilitas pendidikan.

Capaian literasi dan pemberdayaan pemuda adat

Menurut data yang disampaikan dalam bahan informasi program, Literasi Anak Banua mencatat penurunan angka buta huruf anak adat sebesar 30–40 persen. Program itu juga melaporkan peningkatan kemampuan numerasi hingga 52 persen dan penurunan angka putus sekolah hingga 60 persen.

Namun, angka tersebut memerlukan konteks mengenai periode pengukuran, jumlah responden, dan metode evaluasi agar pembaca dapat menilai dampak program secara menyeluruh. Karena itu, capaian tersebut perlu dipahami sebagai data yang dilaporkan pengelola, bukan hasil evaluasi independen yang telah terkonfirmasi dalam penelusuran ini.

Di luar literasi dasar, program tersebut memasukkan materi kesetaraan gender, perubahan iklim, hukum adat, toleransi, dan pencegahan perundungan. Materi pendidikan itu telah diterapkan di 17 sekolah dan menjangkau lebih dari 2.000 anak, berdasarkan bahan yang tersedia.

Literasi Anak Banua juga menjalankan program Pembaharu Muda Adat. Program tersebut dilaporkan telah memberdayakan 900 pemuda adat untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Selain kegiatan pendidikan, komunitas ini mengembangkan proyek sosial seperti pembagian masker gratis, pembuatan buku daur ulang, dan dongeng untuk membantu pemulihan trauma. Bahan informasi juga menyebutkan keterlibatan program advokasi pemuda bersama UNICEF.

Alvian Wardhana masuk seleksi akhir DPD RI Awards 2026

DPD RI Awards 2026 menyediakan empat kategori penghargaan, yakni Inovator Pendidikan Nonformal/Pendidikan Luar Sekolah, Inovator Teknologi Kesehatan, Penggerak Desa Mandiri Pangan, serta Pelestari Budaya Daerah.

Laman resmi DPD RI Awards 2026 mencantumkan Alvian Wardhana sebagai salah satu kandidat kategori pendidikan nonformal. Penyelenggara juga menetapkan tahapan seleksi yang mencakup pemilihan kandidat, verifikasi lapangan, dan penjurian.

Berdasarkan informasi penyelenggara yang diberitakan pada Oktober 2026, Dewan Pakar menentukan tiga kandidat kategori pendidikan dalam rapat perdana di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada 5 Oktober 2026. Nama Alvian kemudian masuk dalam tiga besar bersama kandidat lain dari daerah berbeda.

Masuknya Alvian dalam tiga besar menjadi bagian dari perjalanan Literasi Anak Banua memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dan pemuda adat. Tahap berikutnya dalam rangkaian penghargaan mencakup verifikasi lapangan dan penjurian sebelum malam penganugerahan sesuai jadwal penyelenggara.

(Redaksi)

1.108 Tayangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *