INTERNASIONAL

Trump Tak Menyesal Perang Iran, Harga Bensin Jadi Beban Politik

SOROTMATA.ID  – Perang Amerika Serikat dengan Iran mulai menghadirkan persoalan baru bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela pada November mendatang.

Konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan tidak hanya menelan korban dari pihak militer AS, tetapi juga mendorong kenaikan harga bahan bakar yang berpotensi membebani masyarakat dan memengaruhi pilihan politik mereka.

Meski menghadapi tekanan tersebut, Trump tetap membela keputusan pemerintahannya untuk memulai perang. Ia bahkan menegaskan tidak memiliki penyesalan dan siap mengambil keputusan yang sama jika kembali menghadapi situasi serupa.

Trump Tak Menyesal Memulai Perang

Dalam wawancara dengan host Fox News Laura Ingraham, Trump mendapat pertanyaan mengenai kemungkinan perang Iran memengaruhi pemilu sela yang akan digelar pada 3 November 2026.

Trump mengatakan dirinya tidak terbiasa menggunakan istilah penyesalan ketika mengevaluasi keputusan besar yang telah dibuat.

“Saya tidak percaya pada kata ‘penyesalan’. Anda mungkin sesekali mempertanyakan diri sendiri,” kata Trump dalam wawancara dengan host Fox News, Laura Ingraham.

Ia kemudian menegaskan bahwa keputusan untuk menghadapi Iran tetap dianggap tepat. Trump bahkan mengatakan akan mengulangi langkah tersebut apabila mendapat kesempatan kedua.

“Jika saya harus melakukannya lagi, saya akan melakukan hal yang persis sama,” cetus Presiden AS tersebut dalam wawancara dengan program “The Ingraham Angle” yang disiarkan pada Kamis (10/9) waktu setempat.

Trump juga menolak anggapan bahwa perang yang berkepanjangan mulai membuat pendukungnya kehilangan antusiasme. Menurut dia, para pendukungnya justru bangga karena pemerintahannya mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

“Saya pikir mereka tidak kehilangan semangat. Saya rasa mereka sangat bangga atas fakta bahwa saya tidak membiarkan Iran memiliki senjata nuklir,” ujarnya.

Harga Bensin Tekan Pemerintahan Trump

Persoalan terbesar bagi Trump menjelang pemilu bukan hanya lamanya perang, tetapi juga dampaknya terhadap ekonomi domestik. Kenaikan harga minyak dan bahan bakar kini menjadi perhatian karena langsung memengaruhi pengeluaran masyarakat Amerika.

BACA JUGA :  Perayaan Natal Kristen Ortodoks, Presiden Rusia Vladimir Putin Perintahkan Gencatan Senjata Sementara di Ukraina

Menurut American Automobile Association (AAA), harga rata-rata bensin di AS mencapai US$ 4,22 per galon pada Rabu (9/9). Harga tersebut naik dari US$ 4,01 per galon sebulan sebelumnya dan US$ 3,19 per galon setahun lalu.

Kenaikan harga bahan bakar dapat menjadi persoalan politik bagi Partai Republik. Pemilih yang harus membayar lebih mahal untuk mengisi kendaraan berpotensi menilai dampak perang berdasarkan kondisi ekonomi yang mereka rasakan sehari-hari.

Trump Beri Sinyal Konflik Segera Berakhir

Di tengah tekanan tersebut, Trump mencoba memberikan kepastian bahwa perang tidak akan berlangsung tanpa batas. Dalam wawancara terpisah dengan NewsNation, ia mengatakan konflik dengan Iran mungkin selesai sebelum pemilu sela.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump mengatakan perang kemungkinan baru berakhir setelah pemilu.

“Saya tidak tahu apakah mereka (Iran-red) akan mampu bertahan. Namun, masalah ini akan selesai setelah pemilu. Atau mungkin lebih cepat,” kata Trump dalam wawancara via telepon dengan media NewsNation.

Perang yang dimulai pada akhir Februari tersebut kini memasuki bulan ketujuh. Sedikitnya 18 personel militer AS dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran di kawasan Timur Tengah.

Dengan pemilu sela yang semakin dekat, Trump kini harus menghadapi tantangan ganda. Ia perlu mempertahankan alasan keamanan di balik perang dengan Iran sekaligus meyakinkan pemilih bahwa konflik tersebut tidak akan terus membebani ekonomi Amerika.

(*)

1.080 Tayangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *