Genap Sebulan Penyanderaan Pilot Pesawat Susi Air, Upaya Pembebasan Belum Membuahkan Hasil
SOROTMATA.ID – Penyanderaan Pilot pesawat Susi Air, Kapten Philip Mark Mehrtens oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) telah genap sebulan.
Namun hingga saat ini upaya pembebasan belum juga membuahkan hasil.
Diketahui, Kapten Philip Mark Mehrtens disadera KKB usai pesawatnya dibakar di Bandara Paro, Nduga, Papua, Selasa (7/2) lalu.
Sejak insiden pembakaran tersebut hingga hari ini, Selasa (7/3), tercatat tepat sudah satu bulan Philip dibawa oleh KKB Pimpinan Egianus Kogoya.
Upaya pembebasan pun masih terus dilakukan hingga saat ini.
Hal ini seperti yang dikatakan Ketua Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz 2023 Kombes Faizal Ramadani yang mengatakan pihaknya masih terus melakukan pendekatan lunak melalui negosiasi kepada tokoh masyarakat dan adat setempat.
Meski penyanderaan telah berlangsung lama, Faizal memastikan pihaknya belum akan mengambil langkah penyerbuan kepada kelompok Egianus Kogoya yang membawa Philip.
“Kita masih berusaha maksimal. Kami terus bertekad untuk berusaha mendapatkan, menemukan dan menyelamatkan pilot Philip Mark,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Senin (6/3).
Ia menjelaskan saat ini tim gabungan TNI-Polri juga telah memperluas lokasi pencarian Philip dari titik awal penyanderaan. Faizal berharap dengan memperluas pencarian pada dua lokasi tersebut dapat membuat terang permasalahan ini.
Lebih lanjut, ia menegaskan tidak ada batas waktu untuk melakukan pencarian dan penyelamatan warga negara Selandia Baru itu.
“Memang saat ini usaha kita sudah perluas pencarian di dua kabupaten yakni Kabupaten Nduga dan Lanny Jaya,” tuturnya.
Sementara itu, beberapa waktu lalu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyebut KKB sempat meminta agar Philip ditukar dengan senjata api dan amunisi.
Hal itu, kata dia, sebagai syarat pembebasan pilot asal Selandia Baru kepada pemerintah Indonesia. Kendati demikian, ia mengatakan permintaan itu tidak mungkin dapat dituruti.
“Tidak mungkin, masak kita berikan senjata kepada pemberontak. Ada taktik dan strategi yang dilakukan aparat kita,” ujarnya di Surabaya, Selasa (28/2).
Mahfud juga mengklaim tim gabungan terus memantau pergerakan kelompok pimpinan Egianus tersebut. Hanya saja, kata dia, pemerintah tidak bisa mengambil opsi penyerbuan karena dirasa dapat membahayakan Philip.
“Kami harus terus hati-hati karena para penyandera itu menyandera nyawa. Menyandera nyawa orang New Zealand,” ujarnya.
“Kalau mau disergap bahaya itu. Kami sudah bicara untuk mengutamakan keselamatan Pilot,” pungkasnya.
(*)
