Intelijen AS Sebut Iran Masih Simpan Kekuatan Rudal Meski Digempur Berulang Kali
SOROTMATA.ID – Iran disebut masih memiliki kapasitas rudal balistik yang besar walaupun menjadi sasaran serangan militer Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa pekan terakhir.
Hal ini disampaikan Badan Intelijen Amerika Serikat atau Central Intelligence Agency (CIA).
Penilaian intelijen tersebut muncul dalam laporan media The Washington Post yang kemudian dikutip Middle East Eye pada Kamis (7/5).
Dalam laporan itu, CIA menyebut operasi militer gabungan AS dan Israel belum berhasil melumpuhkan seluruh sistem persenjataan strategis milik Teheran.
“[Iran] masih punya kemampuan rudal balistik yang signifikan setelah dibombardir AS dan Israel berminggu-minggu,” demikian isi laporan tersebut.
CIA juga memperkirakan Iran masih mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi dan militer dalam beberapa bulan ke depan. Lembaga intelijen itu menilai Iran dapat bertahan sekitar 90 hingga 120 hari setelah embargo diberlakukan sebelum mulai menghadapi tekanan ekonomi serius.
Blokade Selat Hormuz Memperburuk Ketegangan
Konflik antara AS dan Iran semakin memanas setelah kedua negara memperketat kontrol di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dunia.
Pasukan AS dilaporkan mencegat sejumlah kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran sebagai bagian dari upaya memperkuat embargo terhadap Teheran. Washington ingin menekan kemampuan ekonomi Iran sekaligus membatasi distribusi logistik militernya.
Di sisi lain, Iran juga meningkatkan tekanan terhadap AS dan Israel dengan menargetkan kapal-kapal yang dianggap memiliki afiliasi dengan kedua negara tersebut. Langkah itu dilakukan Teheran untuk mengganggu aktivitas perdagangan dan ekonomi lawan-lawannya.
Situasi di kawasan Teluk pun semakin tidak stabil. Sejumlah pengamat menilai ketegangan di Selat Hormuz berpotensi memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global jika konflik terus meningkat.
Iran Disebut Masih Memiliki Sebagian Besar Persenjataan
Salah satu pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen tersebut mengatakan Iran masih menyimpan sebagian besar kekuatan rudalnya. Menurut dia, Teheran diperkirakan masih memiliki sekitar 70 persen rudal dan 75 persen peluncur rudal yang dimiliki sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu.
Pejabat itu juga menyebut Iran berhasil membuka kembali fasilitas penyimpanan rudal bawah tanah yang sebelumnya sempat menjadi target serangan udara AS dan Israel.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa serangan militer selama beberapa pekan terakhir belum sepenuhnya menghancurkan kemampuan pertahanan strategis Iran.
Selain mempertahankan stok rudal, Iran juga diyakini masih mampu memproduksi dan memindahkan persenjataan ke berbagai lokasi rahasia untuk menghindari serangan lanjutan.
Bertolak Belakang dengan Klaim Trump
Penilaian CIA tersebut bertolak belakang dengan pernyataan publik Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengklaim bahwa serangan gabungan AS dan Israel berhasil melumpuhkan sebagian besar sistem pertahanan Iran.
Pada Rabu, Trump mengatakan kemampuan rudal Iran telah mengalami kehancuran besar akibat operasi militer yang berlangsung intensif dalam beberapa minggu terakhir.
“Mereka mungkin hanya punya 18 atau 19 persen, tetapi jumlah itu tak banyak jika dibandingkan dengan apa yang mereka punya sebelumnya,” ujar Trump.
Pernyataan Trump langsung memicu perdebatan karena berbeda dengan laporan intelijen internal pemerintah AS sendiri.
(*)
