Dispora Kaltim Tingkatkan Pengelolaan Fasilitas Olahraga Demi Kenyamanan Publik
SOROTMATA.ID – Dalam upaya menciptakan ruang publik yang aman, tertib, dan berkelanjutan, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur terus memperbaiki sistem pemanfaatan fasilitas umum, khususnya di kawasan olahraga. Meski diakui masih menghadapi tantangan, langkah ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Kepala UPTD Dispora Kaltim, Junaidi, mengungkapkan bahwa kebijakan ini ditujukan untuk menjaga kenyamanan dan keamanan fasilitas umum, serta memastikan akses yang adil dan teratur bagi semua kalangan.
“Kami memahami bahwa masyarakat menginginkan fasilitas yang nyaman, tertib, dan gratis. Itu adalah harapan yang sangat wajar,” ujarnya.
Namun, menurut Junaidi, upaya pengelolaan ini memerlukan dukungan semua pihak, termasuk kesadaran masyarakat dalam menggunakan fasilitas secara bertanggung jawab. Ia menegaskan, kebijakan seperti pemberlakuan tarif atau pembatasan tertentu bukan untuk membatasi masyarakat, melainkan sebagai langkah pengendalian agar fasilitas tetap terjaga dan tidak disalahgunakan.
“alau free ini biasanya nih kan ada orang-orang yang tidak baik gitu ngambil-ngambilin helm, yang seperti itu yang jadi masalah,” lanjutnya.
Junaidi menyebut bahwa Peraturan Daerah (Perda) yang telah diterbitkan mengenai pemanfaatan fasilitas olahraga memainkan peran strategis.
Selain mendorong peningkatan pendapatan daerah, perda tersebut juga penting untuk memastikan penggunaan fasilitas tetap tertib dan terjaga.
“Untuk perda, peraturan daerah itu tadi, fungsinya selain untuk pendapatan daerah dalam rangka pemeliharaan, menambah pendapatan daerah,” katanya. Ia menambahkan, “Selain itu, dia juga melakukan fungsi pembatasan.”
Lebih lanjut, ia menjelaskan pentingnya fungsi pengaturan tersebut dengan mengambil contoh penggunaan lapangan sepak bola. Jika tidak ada sistem pengelolaan yang jelas, fasilitas itu bisa dibooking habis-habisan tanpa memperhitungkan kebutuhan perawatan.
“Kalau seandainya lapangan bola ini kita bebaskan, kita free-kan gitu ya. Ini lapangan bola misalnya kita free-kan lapangan bola ini, maka jadwal tahun 2026 mungkin sudah full. Karena banyak yang booking,” paparnya.
Ia menekankan bahwa penggunaan tanpa jeda justru menyulitkan upaya pemeliharaan dan akan membebani anggaran daerah.
“Terus kalau itu setiap hari digunakan, kapan untuk melakukan pemeliharaan, kapan melakukan perawatannya, terus berapa besar biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk perawatan,” ujarnya.
(adv)
