Tragedi Ghanduriyah: Penembakan Pasukan PBB di Lebanon Tewaskan Prajurit Prancis saat Masa Gencatan Senjata
SOROTMATA.ID – Aksi kekerasan bersenjata kembali mencoreng upaya perdamaian di Timur Tengah. Seorang prajurit penjaga perdamaian asal Prancis, Florian Montorio, gugur setelah sekelompok orang tak dikenal melakukan penembakan pasukan PBB di Lebanon.
Insiden tragis ini terjadi saat personel Resimen Insinyur Parasut ke-17 tersebut sedang bertugas membersihkan ranjau di desa Ghanduriyah, wilayah selatan Lebanon.
Serangan mendadak ini tidak hanya merenggut nyawa Montorio, tetapi juga menyebabkan dua tentara lainnya menderita luka serius. UNIFIL mengonfirmasi bahwa patroli rutin mereka menjadi sasaran tembakan langsung dari aktor non-negara.
Kejadian ini memicu kemarahan internasional karena berlangsung persis di tengah kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya ditaati oleh semua pihak yang bertikai.
Kecaman Keras dari Pemimpin Dunia
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, langsung memberikan pernyataan tegas terkait gugurnya prajurit terbaiknya. Ia menuding serangan tersebut merupakan tindakan terencana yang menargetkan personel internasional.
“Prancis mengutuk keras serangan pengecut ini. Bukti-bukti yang ada mengarah pada keterlibatan kelompok bersenjata yang didukung oleh kekuatan regional. Kami menuntut otoritas Lebanon untuk segera bertindak tegas terhadap mereka yang bertanggung jawab,” ujar Macron dalam keterangan resminya.
Senada dengan Macron, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, juga menyatakan penyesalannya. Ia menekankan bahwa serangan terhadap pasukan asing hanya akan memperburuk posisi Lebanon di mata dunia.
“Sudah jelas bahwa perilaku tidak bertanggung jawab ini menimbulkan kerusakan serius pada Lebanon dan hubungannya dengan negara-negara sahabat dan pendukungnya di seluruh dunia,” tegas Nawaf Salam.
Penyelidikan Terfokus pada Pelanggaran Gencatan Senjata
Pihak UNIFIL menduga kuat bahwa pelaku penembakan pasukan PBB di Lebanon ini berasal dari kelompok aktor non-negara. Meskipun tuduhan mengarah pada milisi lokal, kelompok Hizbullah secara resmi membantah keterlibatan mereka dan meminta publik untuk menunggu hasil investigasi militer.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak semua pihak untuk kembali ke meja perundingan dan menghormati keselamatan personel PBB.
“Saya mendesak semua pihak untuk menghormati penghentian permusuhan dan gencatan senjata secara penuh. Keselamatan para penjaga perdamaian adalah prioritas yang tidak bisa ditawar,” ungkap Guterres melalui juru bicaranya.
Respons Diplomatik Indonesia
Indonesia, sebagai salah satu penyumbang pasukan perdamaian terbesar, turut memberikan perhatian khusus. Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa serangan terhadap peacekeepers di masa gencatan senjata merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
“Serangan yang terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari merupakan hal yang tidak dapat diterima. Seluruh pihak harus menahan diri, menghormati kedaulatan negara dan menjunjung tinggi hukum internasional,” tulis keterangan resmi Kemlu RI.
Tragedi ini kini menjadi ujian berat bagi keberlangsungan gencatan senjata di Lebanon. Komunitas internasional mendesak pengamanan yang lebih ketat bagi penembakan pasukan PBB di Lebanon agar misi kemanusiaan tetap bisa berjalan tanpa ancaman nyawa bagi para prajurit di lapangan.
(Redaksi)
