KALTIM

Rapak Dalam Dilanda Kebakaran Malam Hari, Enam Lapak Pedagang Rata dengan Tanah

SOROTMATA.ID – Kebakaran kembali melanda kawasan padat permukiman dan aktivitas ekonomi rakyat di Kota Samarinda. Peristiwa kali ini terjadi di RT 15, Jalan KH Harun Nafsi, Rapak Dalam, Kecamatan Loa Janan Ilir, pada Sabtu malam (8/11/2025) sekitar pukul 20.00 WITA. Dalam hitungan menit, api melahap enam lapak pedagang yang berdiri berjejer di tepi jalan tersebut. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerugian material diperkirakan cukup besar karena seluruh lapak hangus hingga menyisakan kerangka seng dan serpihan kayu.

Menurut keterangan Pejabat Posko 5 Regu 1 Dinas Pemadam Kebakaran Samarinda, Novan, situasi di lokasi sangat cepat memburuk begitu api mulai membesar. Lapak-lapak pedagang yang sebagian besar terbuat dari kayu, triplek, serta material ringan lainnya membuat kobaran api mudah menjalar dari satu titik ke titik lain.

“Begitu terlihat api, kami langsung bergerak. Tapi bangunan di sana rapat, berdempetan, semua dari kayu. Jadi begitu kena panas, apinya langsung menyambar dan membesar,” terang Novan.

Lapak-lapak tersebut diketahui digunakan oleh sejumlah pedagang kecil untuk menjual buah-buahan, ikan segar, ayam potong, hingga nasi kuning setiap paginya. Pada malam kejadian, seluruh lapak dalam keadaan kosong karena pedagang sudah menutup aktivitas sejak siang.

Meski penyelidikan mendalam masih dilakukan oleh pihak terkait, dugaan sementara mengarah pada konsleting listrik dari salah satu lapak. Hal ini disampaikan langsung oleh Novan setelah melakukan pemeriksaan awal di lokasi.

“Sepertinya konsleting listrik. Saat pertama lewat, orang-orang menunjuk ke arah lapak. Awalnya saya kira ada warga sakit jadi ramai, ternyata api sudah membesar di sudut lapak,” ujar Novan.

Beberapa warga di sekitar lokasi juga menyebutkan sempat mendengar suara percikan listrik atau ledakan kecil sebelum api membesar, namun hal ini masih menunggu verifikasi resmi.

Petugas Damkar Samarinda mengerahkan satu unit mobil pemadam dan satu unit tangki air tambahan untuk memadamkan kobaran api. Meskipun skala kebakaran tidak terlalu luas, lokasi lapak yang berada di area sempit dan dekat bantaran sungai menyulitkan upaya pemadaman.

“Daerah sini memang agak sulit titik air. Sumur-sumur warga tidak bisa dipakai untuk hisap, jadi kami sangat terbantu dengan unit tangki air,” kata Novan.

Proses pemadaman berlangsung sekitar 20 menit hingga api benar-benar padam dan tidak menimbulkan titik panas lanjutan.

Ketua RT 15 Rapak Dalam, Sumiati, mengungkapkan lapak-lapak yang terbakar sebenarnya bukan lapak resmi. Para pedagang yang menggunakannya sebagian besar berasal dari luar wilayah RT 15. Bahkan, kawasan tersebut sebelumnya sudah pernah mendapat teguran untuk dihentikan operasionalnya karena lokasinya yang berada terlalu dekat dengan sungai.

“Dulu sudah pernah disuruh bubar, karena tidak boleh jualan di dekat sungai. Tapi tetap saja ada yang buka lapak baru,” tutur Sumiati.

Ia menjelaskan, lapak-lapak itu tumbuh secara mandiri tanpa izin, memanfaatkan area kosong yang berada di pinggir jalan dan dekat aliran anak sungai.

Salah satu faktor yang membuat kebakaran ini tidak menimbulkan korban adalah waktu kejadian. Para pedagang diketahui sudah menutup lapak jauh sebelum malam, sebagian bahkan sudah pulang ke luar kawasan Rapak Dalam.

“Pedagang di sini jualan pagi saja. Siang sudah sepi dan kosong,” tambah Sumiati.

Meski demikian, kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah karena seluruh struktur lapak terbakar habis beserta sebagian peralatan dagang yang tersimpan di dalamnya.

Kebakaran ini menambah daftar panjang insiden serupa di Samarinda, terutama di kawasan padat penduduk dengan bangunan semi permanen. Warga berharap pemerintah setempat melakukan penataan ulang area tersebut agar tidak lagi digunakan sebagai tempat berdagang yang rentan kebakaran.

“Kalau dibiarkan, nanti pasti ada lapak baru lagi. Kami khawatir kejadian seperti ini terulang,” ungkap salah satu warga setempat.

Selain itu, warga juga meminta pemasangan instalasi listrik yang lebih aman serta pengawasan lebih ketat dari pihak kelurahan untuk mencegah bangunan liar kembali muncul.

Hingga Minggu pagi, petugas damkar dan aparat kelurahan masih melakukan penyisiran dan evaluasi di lokasi. Warga dan pedagang yang dirugikan rencananya akan dimintai keterangan untuk keperluan pendataan kerugian.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bahaya kebakaran selalu mengintai kawasan dengan bangunan tidak permanen dan instalasi listrik tidak standar. Pemerintah diharapkan bergerak cepat untuk melakukan evaluasi total, sementara pedagang dan warga diminta lebih berhati-hati dalam penggunaan listrik serta penyimpanan bahan mudah terbakar.

(Redaksi)

1.161 Tayangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *