NASIONAL

Lima Petugas dan Relawan Gugur Saat Berjuang Memadamkan Karhutla Bromo

SOROTMATA.ID  – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak hanya meninggalkan jejak kerusakan alam, tetapi juga merenggut nyawa orang-orang yang berjuang memadamkan api.

Munawi (44), anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP), menjadi korban kelima yang meninggal dunia setelah mengalami luka bakar saat menjalankan tugas di kawasan tersebut.

Munawi mengembuskan napas terakhir di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, setelah menjalani perawatan intensif selama beberapa hari. Kepergiannya menambah panjang daftar duka akibat kebakaran yang melanda kawasan Bromo pada Kamis (15/10/2026).

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyampaikan kabar meninggalnya Munawi sekaligus mengenang pengabdian almarhum dalam upaya pemadaman kebakaran.

“Bapak Munawi, anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang turut mengambil bagian dalam upaya pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, telah berpulang setelah menjalani perawatan intensif,” ujar Rudijanta.

Terjebak di Tengah Kepungan Asap dan Api

Munawi menjadi satu dari 12 petugas dan relawan yang terlibat dalam upaya pemadaman karhutla di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi PTN Wilayah L, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo.

Saat menjalankan tugas, Munawi mengalami luka bakar. Petugas menemukan dirinya dalam kondisi tak berdaya di tengah kepungan asap dan api, kemudian membawanya ke RSUD Dr Soetomo untuk mendapatkan penanganan medis.

Meski tim medis telah memberikan perawatan intensif, nyawa Munawi akhirnya tidak tertolong. Ia meninggal dunia setelah berjuang melewati masa kritis akibat luka yang dideritanya.

“Almarhum meninggal setelah dilakukan perawatan intensif pascapelaksanaan pemadaman kebakaran di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi PTN Wilayah L, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo,” pungkas Rudijanta.

Lima Nyawa Melayang dalam Perjuangan Memadamkan Api

Sebelum Munawi meninggal dunia, kebakaran di kawasan Bromo atau TNBTS telah merenggut empat korban jiwa. Mereka merupakan bagian dari tim gabungan yang berupaya memadamkan api di titik yang disebut dalam laporan sebagai pusubg Lingker, Probolinggo, pada Kamis (15/10/2026).

Keempat korban tersebut ialah Sukaris (55) dan Hendra Rony Wagiyanata (33), petugas Balai Besar TNBTS, serta Wisnu Yuda Pratama (25) dan Sefriel Ardiansyah (19), karyawan hotel di sekitar lokasi kejadian.

Sementara itu, Suraji (40), yang juga mengalami luka bakar ketika berupaya memadamkan api, masih menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Soetomo.

Peristiwa ini memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi petugas dan relawan saat berjuang mengendalikan kebakaran di kawasan konservasi. Di balik upaya menyelamatkan hutan dari kobaran api, mereka harus menghadapi ancaman yang membahayakan keselamatan diri sendiri.

TNBTS Kenang Pengabdian Munawi

Kepergian Munawi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan-rekan sesama petugas, jajaran TNBTS, dan masyarakat Jawa Timur. Rudijanta menyebut almarhum sebagai bagian dari orang-orang yang turut mengambil tanggung jawab dalam menjaga kawasan konservasi.

“Kepergian beliau menjadi kehilangan bagi keluarga, rekan-rekan, dan semua yang pernah berjalan bersama dalam upaya menjaga kawasan,” ujarnya.

Rudijanta juga menegaskan bahwa setiap upaya pemadaman melibatkan orang-orang yang bersedia menghadapi risiko demi keselamatan bersama. Pengabdian mereka, menurutnya, menjadi bagian penting dalam perjuangan menangani kebakaran di kawasan taman nasional.

“Di balik setiap upaya pemadaman, ada orang-orang yang dengan kepedulian dan keberaniannya mengambil bagian dalam menghadapi risiko demi keselamatan bersama,” imbuhnya.

Jajaran Balai Besar TNBTS memberikan penghormatan terakhir kepada para korban yang gugur saat menjalankan tugas. Mereka juga menyampaikan doa bagi Munawi serta keluarga yang ditinggalkan.

“Terima kasih, Bapak Munawi, atas kepedulian dan pengabdian yang telah diberikan. Semoga segala kebaikan almarhum menjadi amal yang terus mengalir. Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala khilafnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan,” ucap Rudijanta.

Lima orang kini telah kehilangan nyawa dalam upaya memadamkan karhutla di kawasan Bromo. Di tengah perjuangan menjaga alam dari kobaran api, kepergian mereka meninggalkan duka sekaligus pengingat akan risiko besar yang dihadapi para petugas dan relawan di garis depan.

(*)

1.091 Tayangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *