Atasi Genangan di Antasari, Andi Harun Kaji Pemasangan Pipa Bawah Tanah ke Mahakam
SOROTMATA.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menyiapkan alternatif penanganan genangan di kawasan Antasari melalui kajian teknis pemasangan pipa bawah tanah untuk mengalirkan limpasan air langsung ke Sungai Mahakam.
Rencana tersebut disampaikan Wali Kota Samarinda Andi Harun saat meninjau sejumlah fasilitas pengendalian banjir, Selasa (13/10/2026) sore.
Andi Harun menjelaskan, rencana pemasangan pipa tersebut ditujukan untuk mengurangi penumpukan air di kawasan Antasari yang menerima limpasan dari Banggris, Jalan MT Haryono, dan wilayah sekitarnya.
Menurutnya, solusi teknis perlu dikaji terlebih dahulu dengan mempertimbangkan efektivitas pengaliran air, jalur pemasangan, serta kemampuan anggaran daerah.
Salah satu alternatif yang dipertimbangkan adalah penggunaan pipa bawah tanah yang dinilai berpotensi lebih hemat dibandingkan pembangunan saluran baru dengan konstruksi beton.
“Kita lihat kemampuan anggaran kita. Untuk mengantisipasi tumpukan air atau genangan besar di daerah Antasari setelah menerima limpasan dari Banggris, MT Haryono, dan sekitarnya, pelan-pelan kita akan alirkan langsung ke Mahakam,” jelasnya.
Pipa Berdiameter 80 Sentimeter Masuk Kajian
Pipa tersebut direncanakan melintasi kawasan sekitar rumah pompa, menuju Banggris, kemudian mengalirkan air ke Sungai Mahakam. Diameter awal yang disebutkan mencapai sekitar 800 milimeter atau 80 sentimeter.
Meski demikian, kebutuhan dimensi dan spesifikasi teknis pipa masih harus dihitung lebih lanjut oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR). Perhitungan tersebut diperlukan untuk memastikan jalur pemasangan dan kemampuan pipa dalam mengalirkan limpasan air secara efektif.
Andi Harun menegaskan, pemerintah tidak ingin terburu-buru menentukan kebutuhan anggaran sebelum solusi teknis yang tepat ditemukan. Menurutnya, prioritas saat ini adalah merumuskan inovasi yang memungkinkan penanganan genangan dilakukan secara efektif dan sesuai kondisi lapangan.
“Kita tidak bicara anggaran dulu. Kita bicara bagaimana menemukan solusi atau rencana inovasi untuk pengendalian dan pengurangan genangan air di daerah Antasari,” tegasnya.
Polder Gang Indra Dipenuhi Gulma
Selain membahas rencana penanganan genangan di kawasan Antasari, Andi Harun meninjau Polder Gang Indra di Jalan Pangeran Antasari, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu. Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi fasilitas penampungan air yang dipenuhi gulma sekaligus memastikan pemeliharaannya tetap berjalan optimal.
Keberadaan polder dinilai penting sebagai salah satu bagian dari sistem pengendalian banjir di Kota Samarinda. Karena itu, pemeliharaan secara rutin diperlukan agar fungsi fasilitas tersebut tetap terjaga.
Andi Harun menyoroti pertumbuhan gulma yang berpotensi kembali memenuhi kawasan polder apabila tidak ditangani secara berkala. Ia menegaskan, pembersihan tidak bisa dilakukan hanya sesekali, melainkan membutuhkan upaya berkelanjutan dengan dukungan tenaga kerja, anggaran, dan peralatan yang memadai.
“Pasti akan tetap ada. Karena itu, pemeliharaannya harus berkelanjutan,” ujar Andi Harun.
Ia mengakui, pemeliharaan fasilitas penampungan air bukan pekerjaan ringan karena harus dilakukan sepanjang tahun. Selain ketersediaan tenaga dan anggaran, dukungan alat berat juga menjadi faktor penting untuk mempercepat proses pembersihan.
Pemkot Berencana Tambah Ekskavator
Untuk mendukung pemeliharaan fasilitas pengendalian banjir, Pemkot Samarinda berencana menambah alat mekanis berupa ekskavator pada tahun depan, dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.
“Rencana tahun depan, kalau dana kita cukup, kita akan menambah alat mekanis seperti ekskavator yang teman-teman lihat hari ini. Sekarang kita hanya punya satu atau dua unit, sementara kebutuhan kita masih banyak,” ungkapnya.
Menurut Andi Harun, keterbatasan jumlah alat berat menjadi salah satu tantangan dalam pemeliharaan berbagai fasilitas pengendalian banjir. Sementara itu, kebutuhan penanganan di lapangan masih cukup besar sehingga diperlukan dukungan peralatan yang memadai.
Selain mengandalkan anggaran pemerintah, ia berharap dunia usaha dapat berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
Andi Harun menyebut perusahaan galangan kapal, industri, pertambangan batu bara, serta pelaku usaha lainnya sebagai pihak yang berpeluang menjalin kolaborasi dengan pemerintah. Dukungan tersebut dapat diberikan dalam berbagai bentuk, termasuk penyediaan alat berat untuk membantu pemeliharaan fasilitas pengendalian banjir.
“Harapannya, perusahaan-perusahaan di Samarinda bisa bersama-sama memberikan CSR, misalnya dalam bentuk alat berat seperti ini. Mudah-mudahan ada yang tergerak untuk membantu,” katanya.
(*)
